pagi tadi
aku telah gagal
aku tak berhasil mengendalikan diri
sungguh berat melampaui ujian demi ujian
maafkan yaaa
Seperti sudah menjadi nyanyian di pagi hari…rumah kami selalu sangat ramai kala pagi pada hari-hari biasa, hari di mana anak-anak masuk sekolah dan Pa mau ke kantor
Children dilevery mesti disiapkan dalam hitungan menit. Saat crusial pertama adalah saat mandi. Entah siapa yang memulai, bisa-bisanya 4 anak rebutan 1 kamar mandi, sementara ada 1 kamar mandi dibiarkan tak berguna. Belum lagi kalau ada yang lupa bawa handuk. Ma dan Bibi yang sibuk di dapur menyiapkan sarapan dan bekal sekolah mesti lari ke sana kemari.
Saat genting ke dua adalah urusan baju seragam. Meski sudah sejak malam sebelumnya disiapkan, selalu saja ada masalah. Ada yang ga mau pake kaos dalam, tapi maunya pakai oblong berlengan. Ada yang meributkan kaos kaki. Ada yang mempermasalahkan dasi dan topi yang kebesaran. Lalu masih ada yang ribut kerudung yang katanya warnanya tidak putih lagi.
Ma si seksi ribut dan si radio rusak tambah jelek saja suaranya. Kalau sudah panik karena jam sudah menunjuk angka 06.30, sementara ada yang belum sarapan, Pa akan kebagian ‘omelan’. Bisa-bisanya Ma menuduh Pa tidak bertanggung jawab karena enak-enak baca koran, sementara Ma ribut sendiri…’hey siapa suruh!”…Mestinya Pa bantu menandatangani buku penghubung. Buku ajaib ini bisa menimbulkan huru hara juga di pagi hari.
Seperti tadi pagi….the crazy morning
Pagi tadi, baru dalam sejarah children dilevary, terjadi dalam 3 kloter…Nadia yang sedang on the top of pressure berangkat duluan, karena setiap hari harus mengikuti segala macam test dan try out…berangkatlah kloter pertama
Kloter ke dua mestinya berisi 3 anak anggota gerombolan pengacau. Tetapi kali ini, hanya berisi Icha dan Nabiel. itu pun Icha sudah mulai mengamuk pada adiknya yang paling disayangi sekaligus selalu dimusuhi-nya: Ijal. Jadi untuk menghindarkan ‘bad mood’ di sekolah, Ma yang praktis terpaksa memberangkatkan Icha dan Nabiel terlebih dulu. Mimik driver yang kebingungan tak dihiraukan. Biasanya kan armada kloter 2 berisi 3 anak. Pagi tadi hanya 2.
Bang Ijal terpaksa ditinggal. Semua ini gara-gara Ma gagal mengendalikan amarah…dan yang mengerikan lagi…tanduk di kepala Ma sudah bermunculan tidak cukup 2…di mana-mana Ma sudah bertanduk…Ma telah kalah oleh si amarah…Ma nelangsa sekali sebenarnya
Setiap Jumat, jadwal Olah Raga Bang Ijal. Pagi-pagi sudah meributkan seragam olah raga. Bang Ijal minta seragam baru. Oke, sim salabim, seragam Bang Ijal pun berganti baru. Sayang mantra ajaib Ma kurang. Seragam itu belum bernama dan tidak ada bed kelas. Bang Ijal pun bete berat. Seragamnya tidak sempurna. Baginya sihir Ma akan kaos dan celana baru sama sekali tak menarik. Ma pun beralasan, mesin jahit tengah rusak, tidak bisa pasang bed nama.
Masih dengan wajah bete, Ijal minta tidak ikut olah raga. Amarah Ma mulai meradang…dengan tegas Ma bilang Bang Ijal harus tetap ikut ke lapangan olah raga meski tidak ikut olah raga. Bang Ijal mulai menangis. Ma yang sudah mulai galak tidak mau tahu.
Entah dapat ide dari mana, dalam tangisnya, tiba-tiba Ijal memunculkan persoalan baru. Kali ini dia menggugat baju seragam putih-putih untuk ganti setelah olah raga. Katanya bajunya sudah tidak putih. Minta yang baru. Ma pun sekali lagi mengayunkan tongkat ajaibnya, seragam putih baru….tapi lagi-lagi belum ada bed nama dan kelasnya…huh…Bang Ijal yang merasa belum kalah, melancarkan aksi serangan lagi.
Kali ini dia sudah menangis keras, katanya celana putihnya sudah kependekan…..Nah….Ma sudah gelap mata…orang-orang di rumah mungkin sudah mulai menyingkir…tak kalah keras dari tangisan Bang Ijal, Ma pun berteriak, tidak mungkin menghadirkan sebuah celana baru, karena celana putih itu mesti dijahit ke taylor, butuh waktu bla bla bla bla….
Ruapanya urusan ‘eyel-eyel-an’ dua orang ini sangat jago: Ma dan Ijal. Setelah kalah 1-0 dari Ma…Bang Ijal masih punya stok untuk ‘menguji’ Ma lagi….dengan tantrum dan suara tangis yang sudah mengalahkan halilintar…bang Ijal minta sebuah permintaan yang bagi Ma sangat sepele, tapi justru membuat Ma benar-benar KO!.
“aku minta uang lima ribu buat beli penghapus”….kata Ijal di sela tangisnya
“kita punya persediaan penghapus…ambil di kamar, ayooo….” kata Ma merasa belum kalah
“aku mau penghapus steadler!. Aku ga mau penghapus yang itu! aku minta lima ribu, aku mau beli steadler!” ……kali ini Ma sudah kehabisan kata-kata…entah apa jadinya….kalau Ma membuka mulut…entah ada kekuatan dari mana, Ma cuma bisa diam menggeram…syukurlah urat syarafnya tak putus karena menaham marah yang amat sangat…
Saat itu jam sudah menunjuk angka 6.50. Icha sudah berteriak-teriak karena pagi itu dia pun ada THD….test hitung dasar
Saat itulah, Ma yang sedang kalut, segera memberangkatkan Icha n Nabiel…”Kamu tidak usah masuk sekolah!”…hanya kata itu yang akhirnya keluar dari mulut Ma kepada Ijal.
Ijal sudah berguling-guling…tidak hanya karena ditinggal kakak dan adiknya, buku penghubungnya juga belum ditanda tangani…what a rush n crazy morning…God please forgive me
Untunglah masih ada yang waras di rumah ini…masih ada yang jadi sandaran tempat mengadu…akhirnya Pa buru-buru ke luar kamar mandi dan berpakaian…mengisi buku penghubung dan berkata…..”ayo Pa antar Ijal ke sekolah”….
“Papa….” tangis Ijal memelas…
Tapi Ma sedang marah sekali….tak punya belas kasihan lagi..
Ma lega ketika akhirnya Pa mengantar Ijal ke sekolah…”Pa…Ijal….. please deh”…Ma berbicara dengan bahasa isyarat, agar Pa melakukan sesuatu pada Ijal…”Oke-oke…ayo berangkat” kata Pa tanpa banyak cingcong.
Kegilaan pagi…itu akhirnya pergi…
Sungguh bukan pagi yang menyenangkan….suara-suara kecil berdentang-dentang di lubuk hati terdalam…istighfar…istighfar….istighfar!!!!
maafkan Ma yang Bang Ijal,
Astaghfirullah…..
Sby, 7 mar 09