Hallo, long time no blogging…
Kali ini saya akan bercerita sedikit kisah tentang Gunung Merapi. Bukan karena saya adalah seorang pendaki gunung atau Merapiholic, tapi berbagi memori saya yang sedikit tentang Gunung Merapi.
Hari-hari ini, bahkan sejak 2 bulan ini, Merapi mulai bergolak kembali setelah masa ‘penantiannya’ di tahun 2006. Sampai akhirnya pada 2 hari lalu Merapi kembali memuntahkan isi gunung: bebatuan, lava dan abu keluar bersamaan dengan asap panas membakar. Merapi sedang menjalankan ‘kerja rahasia-Nya’.
Beberapa hari sebelumnya, tentu saja berbagai isyarat telah dikirim oleh Merapi.
Saya jadi kembali pada masa 15 tahun lalu sewaktu saya masih tinggal jauh di kaki Merapi. Saya pernah menulisnya sedikit di note yang berjudul “HOME SWEET HOME”. Saya pikir pantas mengenang kembali hari-hari ketika saya bisa menyaksikan keagungan dan keindahan Merapi.
Warga yang tinggal di kota Jogjakarta, yang beruntung bila tak terhalang bangunan tinggi, pohon atau awan mendung, dapat menyaksikan cantiknya Merapi pada pagi atau siang hari yang cerah. Merapi yang dari kejauhan nampak biru, terkadang diselimuti awan putih di puncaknya. Merapi yang begitu anggun dan tenang.
Saya baru memperhatikan aktifitas Merapi ketika saya tinggal ‘mengontrak’ rumah di Dayu Permai, Jl Kaliurang km 8. Pada malam hari yang tanpa awan, saya sering menengok Merapi dari halaman rumah. Sungguh beruntung saat itu. Rumah saya terletak di ujung, bersebelahan dengan hamparan sawah, sehingga tak terhalang pandangan untuk bercengkerama dengan Merapi. Pada malam yang tenang, dia hanya nampak seperti bayangan abu-abu tua.
Tetapi pada suatu hari saya mendengar celotehan tentang Merapi yang mengeluarkan percik api dari puncaknya. Ketika malam hari saya menunggu-nunggu kiriman ‘kembang api’ dari perut Merapi. Tidak setiap malam saya beruntung, saya hanya menyaksikan bayangannya saja. Tapi akhirnya suatu hari, saya benar-benar melihatnya. Bukan kembang api, tapi Merapi mengeluarkan lava pijar dari mulutnya…Indah sekaliiii….Subhanallah. Saya nikmati keindahan lava pijar dari Merapi tanpa rasa takut sedikitpun. Bahkan saya kagum dibuatnya. Saya merasa seperti sedang menikmati muntahan lava panas seperti yang terjadi di Hawaii…..haaaa….saya melihatnya dari tv, belum pernah ke sana, ke Hawaii.
Barulah saya sadar esok harinya, ketika media lokal mulai menulis dan teman-teman di kantor membicarakan Merapi yang konon katanya mulai bangun lagi. Waduh….langsung saja saya bertanya kemungkinan meletusnya. Teman-teman meyakinkan bahwa aktifitas seperti itu sudah rutin dari Merapi. Lebih baik lava pijar itu dikeluarkan, daripada tidak, nanti tiba-tiba ‘njeblug’….DOAAAARRRR….wah bisa lebih parah dari letusan Merapi di tahun 1960-an…konon begitu.
Sejak saat itu saya lebih intens menyaksikan Merapi pada malam hari. Warga Jogja juga hidup seperti tidak terjadi apa-apa. Waktu itu belum ada early-warning kalau Merapi mau meletus.
Saya jadi mengenang kembali, sewaktu diajak mantan pacar saya yang waktu itu masih jadi wartawan, berkunjung ke pos pantau Merapi di Babadan. Bahkan saya ikutan naik ke menaranya yang tinggi dan melihat peralatan seismograf yang menurut saya waktu itu masih sangat sederhana. Belum ada layar-layar monitor, hanya pencatat gempa. Dan ternyata setiap saat memang terjadi gempa meski dengan getaran yang kecil tapi frekuensinya sering sekali. Waktu itu sekitar tahun 1991 or 1992, Merapi mulai menyampaikan isyaratnya.
Sembari melihat alat pencatat gempa yang baru pertama kali ku melihatnya, saya menikmati pemandangan sekeliling. Desa Babadan yang adem, tentrem dan sangat subur. Sebelum mencapai pos kami melihat aktifitas penambang pasir di Kali Boyong, beberapa truk bahkan turun sampai bibir sungai untuk mengangkut pasir yang konon termasuk yang paling bagus kualitasnya. Jadi tak ada alasan bagi penduduk di sekitar Merapi untuk pindah meninggalkan Merapi, bertranmigrasi misalnya yang pada waktu itu sangat dianjurkan oleh Pemerintahan Orde Baru. Merapi telah berabad-abad memberikan tanahnya yang subur dan mereka juga saling menjaga satu sama lain. Warga di sekitar Merapi sangat yakin, Merapi selalu memberi ‘TANDA’ bila akan ‘punya gawe’…bila akan terjadi sesuatu. Karena alasan RELASI itu, mereka tak akan bergeming, meski semua orang mengatakan akan bahaya Merapi.
Setelah isyarat-isyarat dikirim Merapi, tiba-tiba di tahun 1994 MERAPI benar-benar meletus. Wedhus gembel yang jadi ciri khas Merapi menelan korban hingga 64 tewas. Waktu itu belum ada Mitigasi Merapi seperti saat ini. Pemda setempat segera membangun saluran-saluran untuk lahar dingin. Merapi bukan tambah ditakuti tapi justru datang perhatian lebih padanya. Persiapan menghadapi bencana dibuat tata tertibnya. Para ahli pun berdatangan penasaran dengan aktifitas Merapi yang khas itu. Bahkan kini telah berdiri Museum Merapi bagi awam agar lebih mudah memahami tingkah Merapi. Dan yang penting siap menghadapinya.
Bagi yang belum pernah tinggal atau punya ‘relasi’ dengan Merapi, kenekadan untuk tetap berada di lingkungan Merapi sulit diterima akal. Bagi awam, Merapi adalah gunung berapi yang paling aktif di Indonesia, sewaktu-waktu bisa meletus dan membawa korban. Karena itu adalah hal konyol untuk tetap tinggal di sana.
Saya pernah berbincang dengan Mbah pijet saya:
“Pripun Mbah, Merapi mau meletus itu lho” kata saya sambil dipijet
“Mboten….dereng…tidak…belum…Merapi cuma batuk saja” kata si Mbah sambil terus asyik memijat
“Lho pripun to Mbah, sudah ada korban lho mbah”
“Nggeh, memang sudah takdirnya begitu” si Mbah tetap bertahan bahwa Merapi tidak berbahaya. Si Mbah asli tipikal warga Jogja asli yang percaya aktifitas Merapi baru sekedar ‘batuk-batuk’ saja…itu baru pertanda saja…belum meletus beneran.
“Lha kalau meletus benaran bagaimana” saya pun masih ngeyel
“Nek Merapi meletus niku sami mawon KIAMAT”…….si Mbah memvonis dengan penuh percaya diri.
Jadi coba bayangkan, tolok ukur Meletus itu KIAMAT….weleh weleh….paham!….Repot kalau begini yaaa
Meski saya hanya penikmat Merapi dari kejauhan. Atau paling banter saya pergi wisata untuk menikmati jagung bakar atau ‘burger tempe’ alias jadah plus tempe bacem khas Kaliurang. Atau sewaktu mahasiswa pernah diplonco di sekitar Kali Adem. Saya sedikit percaya mistisisme Merapi, setelah sejenak saya menyesap suasana misteri ketika saya ikut bertandang melihat Merapi dari dekat di Pos Babadan. Atau menikmati keagungan Merapi dari Bukit Turgo. Atau merasakan ‘ganas’nya Merapi sewaktu diplonco…**hah itu sih bukan Merapi-nya yang ganas**. Jadi saya sedikit paham, ketika banyak warga yang buru-buru kembali ke rumah-nya setelah Merapi reda dari ‘batuk’-nya beberapa hari lalu. Ikatan masyarakat Merapi sulit dipisahkan. Apalagi hanya dengan prakiraan yang menakutkan, itu sama sekali tak membuat mereka bergeming. Mereka sulit meninggalkan Merapi.
Karena itu juga, saya paham, ketika PENJAGA Merapi, Mbah Maridjan memilih untuk tetap tinggal meski sirine tanda Merapi memulai ‘kerjanya’ meraung-raung. Mbah Maridjan tidak akan pernah meninggalkan yang telah dijaganya selama ini. Merapi telah melaksakan kerjanya, MENJEMPUT Mbah Maridjan. Dan Mbah Maridjan telah memenuhi janjinya. Selamat jalan Mbah. Dedikasi-mu hingga akhir dalam sujudmu, semoga jadi ladang amal-mu.
Kita semua kehilangan Mbah Maridjan. Dua tahun lalu, saya ajak keluarga naik ke dusun Kinahrejo, melihat langsung hasil karya Merapi di tahun 2006, di mana beberapa bangunan luluh lantak tertimbun isi Merapi. Dusun si Mbah masih aman. Kini, akhirnya dusun Mbah Maridjan pun porak poranda diselimuti debu abu-abu. Mbah Maridjan telah menyatu bersama Merapi. Innalillahi Wa Inna Illayhi Ro’jiun.
Kutisari Selatan, 28 Oktober ‘10