Belajar dari Sang Matahari

March 23rd, 2009 by Tjahjani Retno Wilis

setiap pagi, semburat cahaya surga yang masih tersisa mengerdip dengan lembut, mempersilahkan dimulainya sorot cahaya kehidupan…biarkan matahari menjalan kerjanya yang tanpa pamrih


sinar hangat keemasan menyentuh khidmat kala subuh, mengirimkan tanda-tanda kasih sayang-Nya yang tak pernah usai..


matahari menjalankan kerjanya mengirim kehangatan dan harapan

matahari dinanti tetumbuhan, gemerisik pucuk dedaunan menyambut belaian Sang Maha Hidup

matahari membawa keindahan, dalam ramai pagi, dalam hiruk pikuk….lihat cahaya-Nya…inilah kasih sayang-Nya

matahari bekerja tak pernah mengeluh

meski

mungkin saja

mendung kelabu tengah mengejarnya

mungkin saja sang awan berarak sambil membawa dendang hujan

mungkin saja langit siap menaburkan angin

matahari bekerja tanpa pamrih

memberikan kegembiraan pagi, menemani langkah dunia meraih sejuta asa

matahari akan terus bekerja, membawa tanda-tanda kecintaan Sang Khalik pada mahluk-Nya



“terimakasih Tuhan, masih diberi kesempatan menikmati pagi-Mu yang hangat dan indah. Tuhan yang mengetahui apa yang tersembunyi…terimakasih menemani setiap langkah perjalanan…dalam sepi..dalam gempita…Pegangi Aku Ya Allah”

Sby, 23 Maret 09

Ramadhan Kareem 1432 H

August 1st, 2011 by Tjahjani Retno Wilis

Alhamdulillah berjumpa Ramadhan kembali. Puji syukur masih diberi nafas dan waktu hari ini untuk puasa di hari pertama. Semoga tunai hingga 30 hari ke depan. Sehat dan Barokah. Semoga lulus jadi muslim yang baik, mutaqin.

Alhamdulillah lagi, puasa tahun ini mulai amat sangat menyenangkan. Anak-anak sudah mulai besar. Nabiel si bungsu sudah kelas 4 SD, abangnya kelas 5, kakaknya Icha kelas VII dan si sulung kelas XII. Mereka relatif sudah mengenal BUDAYA PUASA dengan lebih baik.

Kami sudah tak punya masalah dengan puasa Nadia. Sudah besar, sudah bisa mengurus diri sendiri. Meski pada jam bangun sahur masih harus diberi \”sahur call\”.

Icha, Nizar dan Nabiel masih harus dibangunkan memang. Tapi sudah tidak sesulit saat-saat mereka belajar puasa. Tahapannya sudah lebih singkat sekarang.

Puasa kali ini, saya mengenalkan GAYA HIDUP baru yaitu dengan mengenalkan MENU ORGANIK sebagai bagian dari MENU SAHUR mereka.

Jadi begini tahapannya:

- Jam 03.00 bangun….di dapur sudah penuh aroma masakan yang menggiurkan. Saya beri anak-anak segelas AIR PUTIH. Ini sudah jadi RITUAL WAJIB BANGUN TIDUR.
- 03.10: jeda 10 menit (ke kamar mandi untuk pis atau sekedar kucek-kucek mata sambil mengumpulkan kesadaran) saya beri segelas MELILEA ORGANIK. Saya buatkan satu per satu mulai dari Bapak-nya dan anak-anak, kecuali Nadia karena sudah bisa buat sendiri. MELILEA ini bagus sekali selain karena ORGANIK juga sebagai pengganti sayur dan serat. Juga menambah asupan anti oksidan karena dicampur dengan JUICE APPLE ORGANIK pula.
- 03.45: setelah minum air putih lagi, baru MAKAN. Kalau saya MAKAN KURMA dulu mengikuti Sunnah Nabi \”bahwa sebaik-baik santapan sahur adalah makan KURMA KERING\”
- 04.00: sambil makan, bisa nonton TV. Sebelum Subuh, anak-anak menutup sahur dengan AIR PUTIH lagi dan gosok gigi.

Alhamdulillah…dini hari tadi semua lancar. Anak-anak sama sekali tidak menuntut harus makan ini itu. Icha n Nabiel hanya makan dengan sepotong ayam goreng. Nizar malah hanya makan nasi-sayur asem plus tempe goreng. Untuk urusan makan sahur dan buka, keluarga kami bertekad tetap makan seperti biasa, tidak aneh-aneh.

Yang mungkin sedikit akan ditambah pada saat buka. Ada anak yang suka es buah. Ada yang cukup teh manis. Saya sudah sediakan sirup asli Made In SURABAYA, SIROPEN, yang dibuat sendiri oleh perusahaan di mana Bapaknya anak-anak bekerja. Kalau masakan, seperti biasa saja. Dan saya akan menambahkan lagi MENU ORGANIK yang sangat praktis. Jadi ga akan menghabiskan waktu di meja makan dan membuat perut kekenyangan, yang bisa berakibat malas ke masjid.

Semoga semua berjalan lancar. Kita semua diberi kemudahan dan kesehatan menjalani puasa dengan segala amalan dan ibadah dengan IKHLAS, LILLAHI TA\’ALA. Dan hanya kepada-Nya, Allah SWT, puasa kita persembahkan. Semoga kita dijadikan ummat yang TAAT. Amiin.

Kutisari Selatan, 1 Agustus 2011

ENGKAU…..SENDIRI

January 4th, 2011 by Tjahjani Retno Wilis

…………….
jauh jalan yang harus kau tempuh
mungkin samar bahkan mungkin gelap
tajam kerikil setiap saat menunggu
engkau lewat dengan kaki tak bersepatu

duduk sini NAK, dekat pada Bapak
jangan kau ganggu Ibu-mu
turunlah lekas dari pangkuannya
ENGKAU LELAKI KELAK SENDIRI
…lyric by IWAN FALS

Dear Nizar dan Nabiel….dan buat anak-anak lelaki di mana pun….

Nizar M Afandi, Anak Lelaki Pertama-ku

Nizar M Afandi, Anak Lelaki Pertama-ku

Nabielkhan F Afandi, Anak Lelaki ke-Dua

Nabielkhan F Afandi, Anak Lelaki ke-Dua

Lirik di atas mungkin sederahana, tapi setiap mendengarnya Ma selalu berkaca-kaca
Membayangkan kalian, para Anak LELAKI-ku yang kelak BESAR dan
SENDIRI

NAK,
Ma tidak pandai merangkai kata-kata seperti Iwan Fals
Ma hanya coba ikut menuangkan perasaan dan sedikit pesan
Kelak kalian telah LEPAS dari pangkuan Ma dan meninggalkan rumah ba anak panah
Dan kalian SENDIRI
mungkin SEDIH, TAKUT dan BERDARAH-DARAH
mungkin SAKIT, GALAU dan BIMBANG
mungkin SULIT, SESAK dan TERJEPIT

di saat SENDIRI…..
KUATLAH
TABAHLAH

karena
ENGKAU LELAKI

meski boleh MENANGIS
boleh BERTERIAK

GENGGAMLAH DOA dan HARAPAN
JUJURlah selalu
Meniti jalan menuju KEBENARAN memang tiadalah mudah
tapi jangan BERHENTI apalagi PUTUS ASA

SABARLAH dengan segala UJIAN yang kau terima
karena itulah janji-Nya dulu sebelum kalian lahir
‘kelak kau akan diUJI’

Ujian-ujian itu adalah bentuk Kasih sayang-NYA
karena DIA tak akan melepas ummat-NYA

NAK,
ketika Engkau SENDIRI
YAKINLAH ada kekuatan DOA yang bertebaran, yang kami titipkan pada alam semesta
Kalian tidak SENDIRI
Meski Ma sudah tak ada lagi
Meski Ma tak bersama kalian lagi
Karena kalian adalah milik masa depan
Jadilah KUAT anak-anak-ku
IKHLAS yaa anak-anak-ku

Ma hanya bisa menitip cinta dan doa yang semoga telah terpatri di urat nadi kalian
Semoga kalian tidak pernah merasa SENDIRI

Kutisari Selatan, 4 - 1 - 11

Hari-hari yang sunyi….

November 26th, 2010 by Tjahjani Retno Wilis

Hari ini adalah hari ke 5 dalam setiap minggu. Ketika note ini ditulis waktu menunjukan jam 08.00 pagi. Suasana di rumah sangat sunyi. Kemeriahan pagi telah pergi satu setengah jam lalu. Saat sunyi begini, aku merindukan anak-anak yang ribut.

Sayangnya Mereka sudah mulai besar. Sudah mulai mengurangi ‘keributan’. Siklus alam sedang beranjak maju. Pelan tapi pasti aku disadarkan pada hal-hal yang paling kutakuti tapi harus terjadi: mulai ditinggalkan anak-anak.

Anak-anak yang dulu sangat bergantung pada uluran dan jerih payah kita. Sekarang mereka tumbuh semakin besar. Dan mulai menyadari akan sebuah ‘kemampuan’ dalam diri mereka. Bagusnya, kemandirian mulai tumbuh. Sedihnya, suka tidak suka, mereka mulai mengurangi ketergantungan mereka…banyak hal dari kita tidak mereka butuhkan lagi.

Nadia, sepertinya sudah mulai bisa menghandel segala sesuatu. Kecuali tentunya biaya sekolahnya. jelas masih jadi tanggung jawab kami. Dia sudah punya keasyikan hidup sendiri. Dengan teman-teman sekolah tentunya dan segudang aktivitas serta tugas yang harus dikerjakannya sebagai pelajar. Area kerjanya memang masih terbatas rumah-sekolah-rumah teman n mall (kadang-kadang). Tapi dia sudah mulai berani membawa roda empat meski belum punya lisensi. Jadi saya mesti siap-siap melepasnya pergi lebih jauh-lebih lama….whuaaaaa

Icha, anak yang sangat mandiri. Dia sudah bisa berkata dengan amat sangat tegas begini “nanti malam jangan ada yang masuk kamar, apalagi nggedor-nggedor pintu. Aku mau belajar, Besok re-fresh Math!!!!”…titahnya. Bahkan saya pun tak berani mengetuk kamarnya. Saya bahagia dia bertekad menunjukan tanggung jawab belajarnya. Saya senang mendengar keinginannya bisa masuk kelas yang lebih tinggi. Saya memahami kebingungannya kalau masuk kelas tinggi, dia akan kehilangan guru Math yang paling mudah membuat dia ‘mudeng’ dengan pelajaran matematika yang penuh momok itu. Dua Kaki Icha sudah mulai menapak ke bumi. Dalam dirinya sudah tumbuh kesadaran akan sebuah ‘konsekuensi’. Tapi saya mulai kehilangan ‘bayi’ saya yang bermata indah, tawanya renyah dan ahli IT…ah

Nizar, sekarang ini sedang menikmati dunia-nya ’senang menjadi pemain sepak bola’. Sekarang dia selalu penuh semangat melawan tubuhnya yang kecil. Tiap sore usai jam sekolah, dia lemparkan tas-topi-dasi-jaket ke trotoar depan sekolah, dan kemudian berlari ke lapangan bola. Dia paling bahagia kalau saya datang menjemput lebih lambat. Dia membuat sendiri nama-nya yang kemudian ditempel di kaos dengan nomor seri 7. Dia sudah mulai merasa jagoan.

Selain sepak bola, dia sedang menumbuhkan kesenagan pada ‘dunia sepur-sepuran’…kereta api model. Kalau di jalan berpapasan dengan kereta api, pasti antusias menyebut nomor seri lokomotif yang menarik gerbong-gerbong di belakangnya. Kemudian entah bagaimana dia tahu, dia bercerita padaku tentang si Loko itu. Saya hanya mengangguk-angguk: campuran bangga, kagum dan sedih….Anak laki-laki pertama-ku mulai tahu segala sesuatu…bahkan dia bisa surfing sendiri di internet, mengcopy foto-foto sepur and window shopping di Rail Shop. Sebentar lagi aku pasti juga kehilangan dia. Hiks-hiks-hiks-hiks

Nabielkhan, namanya adalah hasil urunan dari saya dan bapaknya. Waktu hamil dia, saya hanya berkata kalau lahir laki-laki namanya Nabiel. Kalau perempuan Namira. Ternyata lahir anak laki-laki ke dua-ku. Bapaknya memberi tambahan KHAN, sebagai kenang-kenangan akan negeri India, saat itu dia sempat dikirim tugas jurnalistik ke India.

Nabiel sudah jauh lebih mandiri. Meski masih penuh catatan. Saat pagi turun ke bawah untuk sarapan, dia sudah rapi, bisa mengurus dirinya, asal segala kebutuhannya tersedia di tempat seharusnya. Dengan amat manis dia sudah pandai berpakaian dan mengurus buku-bukunya.

Di sekolah, dia punya tempat penitipan tas ‘langganan’. Kalau si Kakak melempar tas di trotoar, si adik chubby ini meletakan di sudut depan toko sekolah. Dia juga akrab dengan penjaga toko. Hanya dengan mengulur botol minum kosong, sesaat kemudian Nabiel akan mendapatkan botol minumnya terisi air, gratis.

Nabiel mungkin masih suka bermain-main. Ketergantungan pada kakak-kakaknya sangat tinggi. Rupanya dia sudah paham dia punya kakak, bisa jadi pengganti Ma dalam mengurusnya. Wah pengalihan tanggung jawab nii. Tapi padanya, aku masih berharap…menyesap aroma bayi dari wajahnya yang menggemaskan, dan tentunya masih berharap ciuman sukarela-nya.

WOW…The Kids grow fastly….padahal masih seperti kemarin saja rasanya. Ah waktu cepat sekali beranjak semakin tua.

Jam sudah menuju arah pukul 9 pagi. Aku akan sabar menanti kemeriahan datang lagi sore nanti. Tiada apapun yang membahagiakan, kecuali mendengar 4 anak sehat ceria bercanda dan tertawa bersama-sama…Kebahagiaan itu tak bisa ditukar dengan apapun. Terimakasih Tuhan.

Kutisari Selatan, November 26′10

MERAPI, MEMORI, MBAH MARIDJAN

October 28th, 2010 by Tjahjani Retno Wilis

Hallo, long time no blogging…

Kali ini saya akan bercerita sedikit kisah tentang Gunung Merapi. Bukan karena saya adalah seorang pendaki gunung atau Merapiholic, tapi berbagi memori saya yang sedikit tentang Gunung Merapi.

Hari-hari ini, bahkan sejak 2 bulan ini, Merapi mulai bergolak kembali setelah masa ‘penantiannya’ di tahun 2006. Sampai akhirnya pada 2 hari lalu Merapi kembali memuntahkan isi gunung: bebatuan, lava dan abu keluar bersamaan dengan asap panas membakar. Merapi sedang menjalankan ‘kerja rahasia-Nya’.

Beberapa hari sebelumnya, tentu saja berbagai isyarat telah dikirim oleh Merapi.

Saya jadi kembali pada masa 15 tahun lalu sewaktu saya masih tinggal jauh di kaki Merapi. Saya pernah menulisnya sedikit di note yang berjudul “HOME SWEET HOME”. Saya pikir pantas mengenang kembali hari-hari ketika saya bisa menyaksikan keagungan dan keindahan Merapi.

Warga yang tinggal di kota Jogjakarta, yang beruntung bila tak terhalang bangunan tinggi, pohon atau awan mendung, dapat menyaksikan cantiknya Merapi pada pagi atau siang hari yang cerah. Merapi yang dari kejauhan nampak biru, terkadang diselimuti awan putih di puncaknya. Merapi yang begitu anggun dan tenang.

Saya baru memperhatikan aktifitas Merapi ketika saya tinggal ‘mengontrak’ rumah di Dayu Permai, Jl Kaliurang km 8. Pada malam hari yang tanpa awan, saya sering menengok Merapi dari halaman rumah. Sungguh beruntung saat itu. Rumah saya terletak di ujung, bersebelahan dengan hamparan sawah, sehingga tak terhalang pandangan untuk bercengkerama dengan Merapi. Pada malam yang tenang, dia hanya nampak seperti bayangan abu-abu tua.

Tetapi pada suatu hari saya mendengar celotehan tentang Merapi yang mengeluarkan percik api dari puncaknya. Ketika malam hari saya menunggu-nunggu kiriman ‘kembang api’ dari perut Merapi. Tidak setiap malam saya beruntung, saya hanya menyaksikan bayangannya saja. Tapi akhirnya suatu hari, saya benar-benar melihatnya. Bukan kembang api, tapi Merapi mengeluarkan lava pijar dari mulutnya…Indah sekaliiii….Subhanallah. Saya nikmati keindahan lava pijar dari Merapi tanpa rasa takut sedikitpun. Bahkan saya kagum dibuatnya. Saya merasa seperti sedang menikmati muntahan lava panas seperti yang terjadi di Hawaii…..haaaa….saya melihatnya dari tv, belum pernah ke sana, ke Hawaii.

Barulah saya sadar esok harinya, ketika media lokal mulai menulis dan teman-teman di kantor membicarakan Merapi yang konon katanya mulai bangun lagi. Waduh….langsung saja saya bertanya kemungkinan meletusnya. Teman-teman meyakinkan bahwa aktifitas seperti itu sudah rutin dari Merapi. Lebih baik lava pijar itu dikeluarkan, daripada tidak, nanti tiba-tiba ‘njeblug’….DOAAAARRRR….wah bisa lebih parah dari letusan Merapi di tahun 1960-an…konon begitu.

Sejak saat itu saya lebih intens menyaksikan Merapi pada malam hari. Warga Jogja juga hidup seperti tidak terjadi apa-apa. Waktu itu belum ada early-warning kalau Merapi mau meletus.

Saya jadi mengenang kembali, sewaktu diajak mantan pacar saya yang waktu itu masih jadi wartawan, berkunjung ke pos pantau Merapi di Babadan. Bahkan saya ikutan naik ke menaranya yang tinggi dan melihat peralatan seismograf yang menurut saya waktu itu masih sangat sederhana. Belum ada layar-layar monitor, hanya pencatat gempa. Dan ternyata setiap saat memang terjadi gempa meski dengan getaran yang kecil tapi frekuensinya sering sekali. Waktu itu sekitar tahun 1991 or 1992, Merapi mulai menyampaikan isyaratnya.

Sembari melihat alat pencatat gempa yang baru pertama kali ku melihatnya, saya menikmati pemandangan sekeliling. Desa Babadan yang adem, tentrem dan sangat subur. Sebelum mencapai pos kami melihat aktifitas penambang pasir di Kali Boyong, beberapa truk bahkan turun sampai bibir sungai untuk mengangkut pasir yang konon termasuk yang paling bagus kualitasnya. Jadi tak ada alasan bagi penduduk di sekitar Merapi untuk pindah meninggalkan Merapi, bertranmigrasi misalnya yang pada waktu itu sangat dianjurkan oleh Pemerintahan Orde Baru. Merapi telah berabad-abad memberikan tanahnya yang subur dan mereka juga saling menjaga satu sama lain. Warga di sekitar Merapi sangat yakin, Merapi selalu memberi ‘TANDA’ bila akan ‘punya gawe’…bila akan terjadi sesuatu. Karena alasan RELASI itu, mereka tak akan bergeming, meski semua orang mengatakan akan bahaya Merapi.

Setelah isyarat-isyarat dikirim Merapi, tiba-tiba di tahun 1994 MERAPI benar-benar meletus. Wedhus gembel yang jadi ciri khas Merapi menelan korban hingga 64 tewas. Waktu itu belum ada Mitigasi Merapi seperti saat ini. Pemda setempat segera membangun saluran-saluran untuk lahar dingin. Merapi bukan tambah ditakuti tapi justru datang perhatian lebih padanya. Persiapan menghadapi bencana dibuat tata tertibnya. Para ahli pun berdatangan penasaran dengan aktifitas Merapi yang khas itu. Bahkan kini telah berdiri Museum Merapi bagi awam agar lebih mudah memahami tingkah Merapi. Dan yang penting siap menghadapinya.

Bagi yang belum pernah tinggal atau punya ‘relasi’ dengan Merapi, kenekadan untuk tetap berada di lingkungan Merapi sulit diterima akal. Bagi awam, Merapi adalah gunung berapi yang paling aktif di Indonesia, sewaktu-waktu bisa meletus dan membawa korban. Karena itu adalah hal konyol untuk tetap tinggal di sana.

Saya pernah berbincang dengan Mbah pijet saya:
“Pripun Mbah, Merapi mau meletus itu lho” kata saya sambil dipijet
“Mboten….dereng…tidak…belum…Merapi cuma batuk saja” kata si Mbah sambil terus asyik memijat
“Lho pripun to Mbah, sudah ada korban lho mbah”
“Nggeh, memang sudah takdirnya begitu” si Mbah tetap bertahan bahwa Merapi tidak berbahaya. Si Mbah asli tipikal warga Jogja asli yang percaya aktifitas Merapi baru sekedar ‘batuk-batuk’ saja…itu baru pertanda saja…belum meletus beneran.
“Lha kalau meletus benaran bagaimana” saya pun masih ngeyel
“Nek Merapi meletus niku sami mawon KIAMAT”…….si Mbah memvonis dengan penuh percaya diri.

Jadi coba bayangkan, tolok ukur Meletus itu KIAMAT….weleh weleh….paham!….Repot kalau begini yaaa

Meski saya hanya penikmat Merapi dari kejauhan. Atau paling banter saya pergi wisata untuk menikmati jagung bakar atau ‘burger tempe’ alias jadah plus tempe bacem khas Kaliurang. Atau sewaktu mahasiswa pernah diplonco di sekitar Kali Adem. Saya sedikit percaya mistisisme Merapi, setelah sejenak saya menyesap suasana misteri ketika saya ikut bertandang melihat Merapi dari dekat di Pos Babadan. Atau menikmati keagungan Merapi dari Bukit Turgo. Atau merasakan ‘ganas’nya Merapi sewaktu diplonco…**hah itu sih bukan Merapi-nya yang ganas**. Jadi saya sedikit paham, ketika banyak warga yang buru-buru kembali ke rumah-nya setelah Merapi reda dari ‘batuk’-nya beberapa hari lalu. Ikatan masyarakat Merapi sulit dipisahkan. Apalagi hanya dengan prakiraan yang menakutkan, itu sama sekali tak membuat mereka bergeming. Mereka sulit meninggalkan Merapi.

Karena itu juga, saya paham, ketika PENJAGA Merapi, Mbah Maridjan memilih untuk tetap tinggal meski sirine tanda Merapi memulai ‘kerjanya’ meraung-raung. Mbah Maridjan tidak akan pernah meninggalkan yang telah dijaganya selama ini. Merapi telah melaksakan kerjanya, MENJEMPUT Mbah Maridjan. Dan Mbah Maridjan telah memenuhi janjinya. Selamat jalan Mbah. Dedikasi-mu hingga akhir dalam sujudmu, semoga jadi ladang amal-mu.

Kita semua kehilangan Mbah Maridjan. Dua tahun lalu, saya ajak keluarga naik ke dusun Kinahrejo, melihat langsung hasil karya Merapi di tahun 2006, di mana beberapa bangunan luluh lantak tertimbun isi Merapi. Dusun si Mbah masih aman. Kini, akhirnya dusun Mbah Maridjan pun porak poranda diselimuti debu abu-abu. Mbah Maridjan telah menyatu bersama Merapi. Innalillahi Wa Inna Illayhi Ro’jiun.

Kutisari Selatan, 28 Oktober ‘10

Akibat Buruk dari Ketergantungan

July 26th, 2010 by Tjahjani Retno Wilis

Pagi hari ketika anak-anak mau berangkat sekolah selalu ramai. Ada yang sibuk rebutan kamar mandi, ada yang sibuk menkomando agar para adik bergegas pergi.

“Ma aku berangkat dulu yaa” pamit si Kakak setelah mengintimidasi adik-adiknya agar segera berangkat.

“Oke berangkat saja dulu, diantar Pak Beno. Adik-adik urusan Ma” Ibunya segera mengambil alih kendali agar pagi hari yang sejuk tidak berubah jadi mala petaka!!! ah lebay…

Setelah anggota 3 Serangkai yang terdiri dari Icha si nomor dua, Nizar laki-laki pertama anak ke 3 dan si gendut Nabielkhan yang selalu bergerak secara ’slow motion’, semua masuk gerobak, Ma alih tugas sebagai Driver. Setelah keluar dari carport dan perlahan-lahan menyusuri gang perumahan yang rame, mulailah ‘diskusi’ antara Ibu dan Anak.

“Ma nanti jalannya lewat kantor-kantor Dinas” kata Icha mengingatkan.
“Oke” kata ibu yang still yakin tahu jalan ke sekolah.

Urusan jalan memang repot. Dari dulu saya bisa nyetir tapi perkara lewat jalan mana itu yang patut dipertanyakan. Drama kesasar pasti jadi bagian dari gaya menyetir Ma. Meski demikian, apa yang dimaksud Icha di awal diskusinya itu, sebenarnya saya juga ga paham. Saya beranggapan mobil itu sendiri sudah hafal rute karena sudah biasa antar jemput anak-anak. Jadi Begitu masuk mobil, yang penting saya bisa menyalakan power, ngatur tempat duduk “Don’t forget fasten your sitbelt” dan ngutak atik spion agar pas diliat. Begitu mobil on ya langsung jalan. Untunglah saya masih menyisakan ingatan akan rute ke sekolah. Pagi ini saya membangunkan kembali bagian dari kepandaian spasial yang masih tersisa di otak saya dan selama 5 tahun tertidur.

“Mama bawa SIM ta?” Nabiel membuka pertanyaan berikutnya.
“Ya pasti sayang. Tenang saja, SIM Mama baru diperpanjang. Mama selalu bawa SIM kemana-mana”

Masalahnya saya ga tahu di sebelah mana para driver yang biasa antar anak-anak meletakan STNK. Tapi saya diam saja agar anak-anak tak gelisah. Yang penting surat-surat sudah dianggap lengkap. Tidak melanggar lampu atawa marka, dijamin tidak kena semprit pak polisi. Hampir 5 tahun pula SIM saya rapi tersimpan di dompet. Hanya sesekali saja saya merasa harus menggunakannya yaitu ketika tidak ada driver yang mengantar dan ketika diminta mengeluarkan identitas saat chek in hotel atau bayar Kartu Kredit. Jadi SIM saya bersih tidak ada lubang peringatan bekas pelanggaran.

Saya konsentrasi pada jalanan dan haluan. Maklum sudah lama tidak membawa kendaraan sendiri. Saya jadi merasa bodoh sekali. Padahal dulu, mulai dari cuci mobil, ngecek oli dan power steering saya sendiri yang melakukan. Kapan harus ganti oli dan kapan kudu ke bengkel untuk spooring n penuh balancing. Pokoknya saya bertanggung jawab penuh pada mobil yang kami dapatkan dengan mencicil itu. Mendapatkannya sudah penuh perjuangan, merawatnya yaa harus sungguhan.

Eh sekarang saya harus mulai membiasakan diri lagi, jadi haluan adalah penting buat saya. Paling ga jangan sampai nyerempet tetangga atau orang di pinggir jalan. Tentu saja, meski suka tantangan dengan mencoba rute-rute yang ga familiar, saya belum punya nyali masuk di gank-gank sempit.

“Ma, kok panas” kata Nizar berikutnya.

Saking fokus pada jalanan dan haluan, saya tidak menyalakan AC. Dengan lugu kemudian saya mengaku di hadapan anak-anak yang kelihatan agak tegang dengan gaya menyopir ibu-nya, bahwa sebenarnya saya tidak tahu mana tombol untuk menyalakan AC. Nah lu!!!

Bergantung pada orang lain memang bisa membuat kita bodoh!. Hampir 5 tahun saya tahu beres urusan mobil. Yang penting saya bisa sampai dengan selamat ke tempat acara. Driver hanya sesekali sambat bensin habis. Urusan teknis yang lain paling hanya soal ganti oli dan pajak kendaraan. Saya tidak pernah lagi nguprek-nguprek mesin mobil seperti tabiat saya sebelumnya. Bahkan saya ga ngerti mana tombol AC. Yang penting masuk mobil terasa dingin dan ada musiknya. Sekarang harus peduli lagi. Saya harus mulai melepas ketergantungan pada sopir. Mulai lagi mengenal tetek bengek yang harus saya pencet kalau bawa mobil sendiri.

Itu baru urusan AC. Sering saya salah klik tuas ritting dan wiper. Mestinya mengengkol tuas sebelah kanan untuk lampu sign kalau mau belok kanan or kiri. Eh saya klik tuas kiri jadinya wiper yang bergerak padahal tak ada hujan. Bego bener!. Maklum sebelumnya saya bawa mobil keluaran Eropa. Rupanya cara mereka meletakan tuas wiper dan ritting, berbeda dengan mobil Jepang.

Atau saat di pom bensin. Mau isi bensin tidak tahu tangki ada di sebelah mana. Giliran petugas sudah siap dengan selang-nya, saya masih sibuk mencari tuas pembuka tutup tanki. Norak banget. Untung saya perempuan. Jadi konsumen lain yang sabar antri, maklum sambil tersenyum kesal barangkali “Biasa ibu-ibu!”.

Akhirnya anak-anak sukses diantar ibu-nya, sampe di sekolah dengan selamat. Alhamdulillah. Akan tetapi, saat antri dengan para pengantar lain, anak-anak sudah tidak sabar ingin keluar dari mobil. Mungkin mereka merasa lebih baik jalan kaki agak jauh daripada tegang di dalam kendaraan bersama ibu yang kikuk! Hehehehe…sabar yaa anak-anak.

Dari sekolah saya kemudian mampir ke rumah kolega. Mau bayar uang arisan yang tertunda. Duh kasian bendaharanya mesti nombok gara-gara saya telat bayar. Maaf ya Bu.

Dengan sukses saya parkir. Meski ada petunjuk di layar monitor, begonya lagi, saya ngga ngerti apakah mobil saya sudah tepat lurus atau masih miring. Saya memilih menggunakan metode kuno yaitu membuka jendela dan mengeluarkan kepala untuk melihat posisi letak mobil.

Urusan arisan selesai saya melaju lagi. Kembali ke sekolah mengurus buku pinjaman perpustakaan yang ketlingsut. Kok bolak balik sih. Naa ngaku lagi akhirnya. Mengapa saya memilih bolak-balik? Karena saya memilih waktu yang sudah sepi dari para pengantar agar saya bisa sukses PARKIR!.

Soal parkir memarkir roda 4 bukan perkara mudah bagi saya. Meski merasa sudah canggih dengan gaya atret mundur, tetapi belum bisa meletakan mobil tepat lurus dengan anggun. Seperti tadi pagi, saya baru sadar kalau posisi roda depan masih miring ke kanan. Dalam hati saya agak mengutuk Tukang Parkir yang mengkomando saya tadi, mbok yao saya diingatkan kalau posisi roda masih miring begitu. Kan jadi tidak sedap dipandang!

Parahnya lagi, saya baru sadar kalau tadi di rumah teman, saya sempat meninggalkan mobil dalam keadaan kaca jendela tengah masih terbuka. Begini ini akibat kebiasaan ‘asal tahu beres!’. Untungnya saya parkir bukan di keramaian, jadi sepertinya aman tidak ada yang hilang.

Begitulah akibat dari ketergantungan. Bisa membuat kita jadi terbelakang. Karenanya saya mesti belajar lagi, mulai mengurus diri sendiri kembali. Begitulah niat baik saya. Semoga!.

Kutisari Selatan, 27 Juli ‘10

Menikmati Hujan Pagi Hari

June 12th, 2010 by Tjahjani Retno Wilis

Hari Sabtu mestinya bisa lebih santai. Hanya ada 1 anak yang tetap sibuk. Si sulung tengah Ujian Kenaikan Kelas. Jadi Sabtu pun masuk. Tiga adiknya masih nyenyak di peraduan sambil mimpi melihat piala dunia di Afsel. Semalam mereka sudah terjangkit demam bola.

Ternyata Subuh tadi hujan deras. Sesaat menjelang keberangkatan Nadia, matahari sudah menari-nari menerobos rumah kami. Tapi setengah jam kemudian hujan deras turun lagi. Saya sudah kembali ke peraduan, mengingat para kurcaci juga belum membuat keributan, jadi saya ingin menikmati ‘leyeh-leyeh’. Mumpung libur. Asyik saja bisa menikmati kamar yang tenang sambil surfing dengan gadget di genggaman. Ketika hujan deras turun kembali, saya memandang jendela kamar.

Dulu jendela kamar ini berhadapan langsung dengan halaman belakang terbuka yang sempit. Jadi saat hujan, kami bisa menikmati suara dan tampias air hujan di jendela.

Tiba-tiba saya mendengar seorang gadis kecil dengan lantang membaca beberapa baris puisi, sambil berdiri di tepi jendela di samping box bayi. Suaranya membuatku tertegun.

“Hujan turun terus terusan
Ayah Ibu susah sekali
Payung satu jadi rebutan
Aku - Kakak serta Adik Budi”

Antara geli dan kagum. Bait puisi itu dikumandangkan anak yang baru berumur 5,5 tahun dan masih duduk di taman kanak-kanak. Dibacakan tepat dengan suasana yang tengah terjadi, HUJAN.

Itulah suara Nadia hampir 11 tahun lalu. Berdiri di ambang jendela, meneriakan puisi yang baru dihafalnya. Lucu dan membanggakan kedengarannya. Saya masih selalu tersenyum geli mengingatnya.

Apalagi takala hujan seperti barusan. Kami bersyukur bisa menikmati hujan dari kamar kami. Rumah kecil ini penuh dengan suara yang mengasyikan. Ada suara hujan, ada deru kendaraan. Bila matahari cerah bersinar, rumah kami bermandikan sinar-Nya. Bila malam dipenuhi Bulan Purnama, rumah kami hangat oleh cahaya-Nya. Bila langit malam cerah, kami bisa mengagumi kilau ba permata dari taburan bintang. Subhanallah.

“Terimakasih Ya Rabb atas Karunia-mu yang tak terhingga ini
Jagalah kami dalam penjagaan-Mu yang kokoh,
Rengkuhlah kami dalam dekapan Kasih Sayang-Mu,
Jadikan kami selalu bersyukur atas segala nikmat-Mu
Amiin”

Kutisari Selatan, June 12 ‘10

Home Sweet Home Part 2

June 6th, 2010 by Tjahjani Retno Wilis

Kami telah kembali ke rumah mungil di Kutisari. Anak-anak happy sekali kembali ke rumahnya sendiri. Kecil tetapi menyenangkan.

Apalagi anak-anak sudah punya kamar sendiri. Meski sudah diprediksi sebelumnya. Meski mereka sudah punya kamar sendiri, tentu saja hanya akan jadi tempat penitipan baju dan buku. Sementara pemilknya tetap menyukai NUMPANG di kamar Ma n Pa.

Awalnya pindah, masing-masing berusaha menikmati kamar masing-masing. Tiga anak langsung bisa menikmati kamar baru mereka. Terbukti mereka langsung ‘tewas’ dengan sukses, TIDUR saat waktunya harus tidur.

Akan tetapi beda dengan Nabiel, si pipi chubby yang gendut menggemaskan seperti bayi, tidak bisa kunjung tidur. Entah dia tengah menikmati kamarnya atau menyesali telah punya kamar baru, yang membawa konsekuensi dia harus tidur SENDIRI. Saat saya pertama kali menengok kamar mereka satu per satu, memperbaik letak selimut dan mengusap kepala seraya menitipkan doa, hanya Nabiel yang belum tidur. Ketika saya dekati tempat tidurnya, segera dia memasang wajah bayi-nya, merengek minta ditemani. Ibu-nya ini tidak pernah tahan dengan rengekan nabiel si muka bayi. Jadi sambil ikut berbaring sambil memandang ke arah luar, menikmati langit malam dari jendela yang belum berkorden, aku berbisik “wah asyik deh kamar Nabiel, kita bisa lihat bulan dari dalam kamar”. Sekejap kutengok putra kecilku, dia sudah terlelap. Alhamdulillah.

Membawa Kebiasaan Lama

Akan tetapi ada kebiasaan yang sulit dihilangkan. Ketika tiba waktu mandi di pagi hari, anak gadis ternyata masih suka rebutan kamar mandi di kamar Ma dan Pa. Meski ada kamar mandi dekat kamar mereka, tetap saja menyukai kamar mandi ortunya. Kadang kami tidak tahu, diam-diam mereka menyelinap masuk kamar terus ke kamar mandi.

Kebiasaan lain adalah, kembalinya Nizar dan Nabiel ke kamar Ma dan Pa. Suka rela mereka menyeret kasur busa agar bisa bersatu dengan kami. Awalnya Nabiel si bungsu yang senantiasa pandai memasang wajah penuh belas kasihan pada kami. Merengek minta tidur dengan kami “May I sleep with you Mom….please”…tidak ada yang kuasa menolak rayuannya. Anak 8 tahun yang baru saja ulang tahun, kembali ke pelukan Ma n Pa.

Hal itu memicu Nizar ikut-ikut intervensi ke kamar kami. Tanpa banyak bicara, Nizar menggelar bed-cover sebagai alas tidur di lantai kamar kami. Dan bed cover lain sebagai selimut. Ibu mana yang tega coba, akhirnya si Mbak sibuk diperintah mengusung kasur untuk Nizar. Jadinya kamar mereka tak berpenghuni.

Saya masih menunggu apakah Icha akan terprovokasi hal yang sama?. Sejauh ini dia sangat menikmati kamarnya. Dia punya hobi baru yaitu ‘mengunci diri’ di kamar barunya. Seperti balas dendam pada kakaknya, yang suka melakukan hal yg sama. Akhirnya dua anak gadis jadi penunggu lantai atas.

Begitulah ceritanya.

Semoga rumah kami akan kembali ‘hidup’ diramaikan oleh suara anak-anak yang telah lama dirindukannya. Suara ribut seperti tangisan dan pertengkaran adalah musik indah bagi sang rumah. Kebisingan dan kegaduhan adalah hiburan bagi si empu rumah. Anak-anak memang selalu menyenangkan bagi sebuah rumah.

Terimakasih Tuhan, atas segala karunia dan anugerah-Mu yang tak terkira: Anak-anak yang sehat dan Rumah yang hangat.

Hey….we are HOME again…Thanks God.

Kutisari Selatan, Sunday June 6

TOTTO-CHAN

March 2nd, 2010 by Tjahjani Retno Wilis

Kali ini saya ingin sedikit berbagi tentang si TOTTO-CHAN. Sejak jadi rasan-rasan kira-kira 17-18 tahun lalu…huuuuuu lamanya….Totto Chan sudah menjadi ‘teman’ sehari-hari. Bahkan waktu itu saya masih mahasiswa, belum lagi bersuami apalagi beranak…Saya pernah rebutan TOTTO sama teman…ketika akhirnya mendapati TOTTO…saya langsung mengkloning-nya jadi 10…huaaaaa

Sebenarnya ini soal apa sih????

O o…maaf - maaf…saya lupa. Ada yang belum atau tidak kenal TOTTO CHAN yaa….Mmmmmh, begini saja. Kalau Anda belum kenal, sebaiknya Anda sesegera mungkin pergi ke toko buku terdekat dan membeli buku-nya. O jadi si TOTTO ini sebuah buku to?…Iya kira-kira begitulah. Apabila Anda seorang calon Ibu atau Ayah, seorang Guru atau bahkan seorang KEPALA SEKOLAH, sebaiknya dan wajib hukumnya saya kira untuk memiliki dan membacanya untuk kemudian bisa mengambil dan menerapkan inti ajaran hidup yang baik tentunya. Jelas yaa….maaf, saya sedang tidak banyak waktu untuk bercerita tentang ToTTO…jadi sebaiknya Anda mengikuti saran saya saja, segera ke toko buku.

Malam ini, saya baru mulai membaca buku TOTTO-CHAN’S CHILDREN, A Goodwill Journey to the Children of the World…baru membukanya halaman awal dan mulai membaca, saya sudah dibuat bercucuran air mata…maaf kalau ini dirasa mellow…tapi TOTTO selalu berhasil membuat saya tersenyum, tertawa terbahak-bahak dan sekaligus menangis haru…TOTTO atau yang punya nama asli Tetsuko Kuroyanagi, adalah PENCERITA ulung….dialah Gadis Kecil di Tepi Jendela, yang suka memanggil tukang ngamen saat pelajaran sekolah. Dia-lah si tukang onar yang membuat guru di sekolah lamanya TRAUMA bila hendak pergi ke ruang guru, sampe celingukan dulu di koridor sekolah. Melihat apakah ada TOTTO yang setiap hari di-setrap sama wali kelasnya…Totto membuat si Guru ketakutan, dengan pertanyaan ‘Guru, apa salah saya?’…’Bu Guru kenapa tidak suka pengamen?’….

Untunglah TOTTO kecil kemudian bertemu Kepala Sekolah yang amat bijak, yang memberi dan mengubah jalan hidup TOTTO kecil. Tahu kan kenapa saya menyarankan para Kepala Sekolah wajib membaca buku ini?. Kepala Sekolah, Bapak Kobayashi adalah sosok Dewasa yang mengagumkan yang bersedia meluangkan 4 jam waktunya hanya untuk mendengar Totto, seorang gadis kecil kelas 1 SD, BERCERITA. Jarang yaa atau mungkin tidak ada Kepala Sekolah seperti beliau ini yaa.

Pak Kobayashi juga punya cara mengajari anak-anak ‘BERKONSENTRASI’ melalui pelajaran ‘Ritme’nya. Kira-kira begini: Pak Kepala Sekolah memainkan piano dengan beberapa nada. Tiap nada ada gerak tari-nya yang berbeda-beda tentu saja. Jadi misal nada 1, gerak tari 1, nada 2 dan seterusnya. Itu mah gampang yaa. Ketika pelajaran harus semakin sulit, anak-anak harus fokus dan konsentrasi dengan seruan Pak Kepala Sekolah yang memberi aba-aba ’sekarang nada 2 gerak 1′…kemudian meningkat lagi nada 2 gerak 3′…Anak-anak harus konsentrasi agar tidak saling tubrukan, karena semakin lama nada dan gerak semakin cepat. Begitulah Kepala Sekolah yang bijak itu.

Kepala Sekolah itu juga selalu mengatakan sesuatu yang akan selalu diingat TOTTO bila anak tengil itu berbuat ‘ulah’. Pak Kobayashi hanya berkata “Kamu sebenarnya Anak yang Baik!”….Begitulah, kata-kata itu meyakinkan Totto, bahwa dia adalah anak yang baik. Bukan anak nakal seperti sangkaan guru di sekolah lamanya.

Untung lagi, si Totto juga punya Ibu yang tak kalah bijak. Seorang Ibu, yang baru belasan tahun kemudian mengatakan kepada anaknya begini:

“Tahu ga kenapa kamu dulu pindah sekolah?” tanya Ibu Totto suatu hari ketika TOTTO sudah dewasa dan menjadi artis TV

“Tidak” jawab Totto

“Kamu itu sebenarnya DIKELUARKAN!!!” kata Ibu Totto
kenapa
Coba bayangkan kalau sang Ibu tidak bijak dan mengatakan anaknya DIKELUARKAN dari sekolah karena ulahnya yang di luar kendali, menurut guru sekolah lamanya. Bisa jadi ToTTO kecil tumbuh jadi anak yang kurang PD (bukan partai loh…maksudnya Percaya Diri! red). Jadi, ayo para Ibu, belajar jadi bijak seperti Ibu-nya Totto.

Kembali ke buku ke dua tentang TOTTO…apa yang membuat saya menangis?….

Di buku ke dua yang baru diterbitkan Februari 2010 ini, isinya tentang pengalaman TOTTO Dewasa sebagai Duta Unicef…sharing pengamatan di beberapa negara miskin, maaf tidak termasuk Indonesia yaa

Sebagai Duta UNICEF, Totto mendapat kesempatan mengunjungi negara-negara seperti Tanzania yang kering kerontang, Nigeria yang penuh perang saudara, India, Mozambik, Kamboja, Vietnam, Bangladesh, Ethiopia, Sudan, Rwanda, Irak dan Haiti serta Bosnia-Herzegovina. Negara-negara yang tak hanya didera kemiskinan, kelaparan dan keterbelakangan…tapi juga perang saudara yang amat sangat merugikan perempuan dan anak-anak.

Saya belum selesai 1 BAB…tetapi ada benang merah yang saya dapatkan…Betapa kita di Indonesia, harus lebih banyak BERSYUKUR. Meski kemiskinan masih melanda, tetapi Upaya yang dilakukan banyak pihak, sebenarnya cukup menggembirakan, bila dilihat dari sisi kepekaan terhadap kondisi masyarakat miskin, khususnya perhatian kepada perempuan dan anak-anak. Meski tentu saja, di daerah-daerah kantong kemiskinan dan perkotaan, harus diberi perhatian penuh agar tidak semakin jatuh ke bawah garis kemiskinan. Dan upaya yang dilakukan harus terus ditingkatkan sampai mencapai standar kehidupan yang layak, Prioritas kepada Usaha Pengentasan Kemiskinan patut diberi apresiasi. Dan wajib bagi kita semua bersinergi, agar kondisi yang lebih baik segera terwujud. Karena itu, mari bergandeng tangan, demi anak-anak yang sehat dan sejahtera.

Kita akan selalu semaksimal mungkin bekerja keras, agar anak-anak dan perempuan terlayani kesehatan dan pendidikannya. Semoga, dengan membaca buku Totto, kita bisa berefleksi kemudian bersyukur, bahwa keadaan kita masih jauh lebih baik dan selalu akan ditingkatkan menjadi lebih baik lagi, lebih humanis, lebih beradab.

Semoga.

(ayoooo baca-baca-baca..lagi…belum selesai nangisnya eh baca buku ke 2 Totto Chan’s Children)

Kupang Indah - Surabaya, 2 Maret 2010

REUNI (Lagi)

March 1st, 2010 by Tjahjani Retno Wilis

Meski agak terlambat memposting tulisan ini. Namun kisah bahagia tak ada salahnya untuk dibagi kapanpun. Bahagia yang dirasakan saat bertemu teman-teman ketika jadi Mahasiswa dulu. Yah mungkin ada yang sudah hampir 15-16 tahun baru bertemu lagi. Hanya satu-dua yang bertemu agak lebih sering.

2-di-dapur-rmh-ining

4-menyambut-tamu-dg-berfotoria

Era Mahasiswa memang berbeda dengan masa remaja di SMP atau SMA. Ketika masih usia sekolah Pertama atau di High school, masa pertemanan dipenuhi rasa ingin tahu yang besar, jadi manusia yang paling SOK TAHU. Atau merasakan petualan ‘kebandelan’ masa muda: minggat dari sekolah, berantem, ngerjain guru atau sekedar cinta monyet. Tapi begitu lulus SMA, masa-masa indah itu segera digantikan dengan ‘petualangan hidup’ yang lebih nyata. Lebih serius dan pastinya lebih bertanggung jawab.

19-tema-reuni-yaa-ini-sashlik

18-rame-rame-barbequ

Begitu jadi mahasiswa, harus mulai pandai berhitung mengatur budget kiriman orang tua yang ’selalu saja kurang’…berapapun seperti tak ada cukupnya. Karena itu begitu masuk semester tinggi, para perantau muda yang kepepet mau tak mau harus memikirkan bagaimana kerasnya ‘mencari’ sesuap nasi dan sekedar bisa ‘nonton bioskop’.

21-wilis-n-abe-mengenang-nasib-jaman-mahasiswa-sering-terlantar-macam-ini

26-ahli-n-maniak-potret-adalah-takdir-anak-komunikasi

Begitu Mahasiswa, bahkan sudah ada yang memikirkan sebuah tawaran keberanian memegang KOMITMENT dalam sebuah PERNIKAHAN. Jadi sudah mafhum kalau banyak pasangan muda yang sudah menikah atau bahkan punya anak, meski masih menyandang status mahasiswa: sibuk kuliah, ditambah kerja part time dan urusan rumah tangga.

Karena itu, di masa-masa kuliah yang tidak hanya menyenangkan, kadang juga membosankan…melalui bersama teman-teman senasib yang jauh dari Ortu…adalah sebuah kenangan yang patut diukir dan diingat kembali. Bersama sahabat-sahabat yang memulai dunia yang lebih tampak nyata harus diperjuangkan, bukan hanya koar-koar sok tahu. Tapi, harus pula menjadi manusia yang pandai menyusun strategi. Di usia-usia mahasiswa inilah, harus bisa mengambil LANGKAH yang TEPAT. Karena pengaruhnya sudah TAK MAIN-MAIN lagi. Itu seperti perjuangan hidup dan mati. Salah ambil strategi bisa fatal.

36-meski-sudah-berbuntut-persaudaraan-ini-tak-lekang-oleh-waktu

41-yuni-n-wilis

Sekedar mencoba mengingat, masa-masa perjuangan memulai hidup yang patut dikenang. Bahagia bertemu sahabat lama yang sudah banyak BERUBAH. Berubah dari segi UKURAN TUBUH maupun berubah NASIB-nya. Betapa berharganya, mengukir masa-masa muda dengan rencana-rencana spektakuler yang penuh ambisi. Juga harus dibarengi hitungan atau strategi yang cerdas. Lihatlah hasilnya….aku bahagia menjadi bagian dari hidup sahabat muda-ku, mengukir perjuangan bersama, saling mengingatkan akan tanggung jawab hidup yang lebih besar. Masa mahasiswa bukan masanya main-main lagi.

44-mangan-ora-mangan-si-penting-potret

42-heboh-di-pesona-vancouver

Dan ketika masih diberi kesempatan bertemu lagi….WOW…Thanks God, terimakasih akan kebersamaan kami selama ini…LUAR BIASA hidup aku dan sahabat-ku ternyata. Sungguh tak terkira anugerah Tuhan. Mengirim teman-sahabat yang baik dalam suka dan duka…Meniti langkah dan merenda hidup yang sungguh tak terbayangkan. Seperti kemarin saja rasanya. Padahal masa-masa itu telah lewat belasan tahun lalu…

91-the-last-song-dancing-queen-maksude-sledur-sleduran

93-meski-sudah-dini-hari-tapi-masih-pada-seger

96-belajar-bekerja-dan-bergembira-kudu-seimbang

Terimakasih Tuhan, untuk semua Karunia-Mu. Jagalah kami semua dalam penjagaan-Mu yang kokoh. Amiin.

Kupang Indah - Surabaya, 1 Maret ‘10

Dunia Roller Coaster

February 13th, 2010 by Tjahjani Retno Wilis

Judul di atas sebenarnya hanya perumpamaan. Tetapi sejak berada di dunia yang berbeda dengan 5 (lima) tahun sebelumnya, saya paling suka menyebut kehidupan kami ‘ba roller coaster’. Sudah pernah naik wahani itu khan?. Paling ga yaa sudah pernah melihatlah. Saya pernah mencoba beberapa kali. Hanya ingin merasakan dan menguji nyali saya saja. Setelah itu yaa sudah. Yang penting sudah pernah merasakan.

Lalu, dunia rooler coaster seperti apa yang dimaksud????

Mulai dari Tengah

“Cerita ini akan dimulai dari Tengah”…lagi-lagi ini adalah kata-kata yang saya kutip dari teman saya yang pakar kata-kata, sang novelis Lan Fang.

Saya ga mungkin menceritakan awal mula hidup di atas roller coaster. Karena akan terlalu bertele-tele dan kurang up to date. Meski sebenarnya, saya sedang mulai mengulang ‘huru hara’ pesta lima tahunan, Pilwali.

Sudah menemukan kuncinya yaa. Sebagai istri dari seorang Wakil Walikota yang akan running di ajang Pilwali Surabaya, kehidupan ba laju roller coaster, tengah saya rasakan. Begitulah kawan. Hari-hari saya tiap detik bisa berubah. Entah apa yang akan terjadi, kami hanya menjalani saja, sambil beradu otak mengatur strategi dan menyusun planning. Kadang harus stug, berhenti tanpa tahu apa yang harus dikerjakan. Kemudian tiba-tiba, harus meluncur seperti terjun bebas. Mendebarkan. Tepatnya Menakutkan. Sering juga harus melaju kencang ba angin, dan kemudian menghilang begitu saja. Hit and Run. Tak jarang kudu meliuk-liuk ba penari balet, karena permainan penuh teka-teki. Kami, khususnya suami dan saya, juga bergantian diaduk-aduk perasaannya dengan berita-berita di media.

Untunglah. Saya punya anak-anak yang luar biasa. Mereka sudah mulai mengerti akan kiprah Bapak-nya yang akan berkompetisi di Pilwali. Mereka sudah tahu artinya harus MENANG. Kadang mereka surprise melihat baliho-baliho Bapaknya bertebaran di sudut kota. Si sulung berkomentar dengan nada ‘aduh Papa’. Komentar temannya ebih heboh lagi “Wah foto Papmu lho Nad, mengalihkan dunia-ku”.

Nada komen mereka menggembirakan. Membuat kami bersemangat. Tetapi saya menjaga dengan kuat, agar kehidupan mereka tetap senormal mungkin. Tidak perlu terseret-seret dalam hura-hara ini. Meski kami tetap menyiapkan mental mereka. Seperti, menyiapkan mereka kalau ada berita-berita di koran yang agak sumir pada Papa mereka. Kami tidak akan membohongi mereka dengan menutup-nutupi atau berkata yang baik-baik saja. Hanya saja kami harus pandai mengelola ‘pesan’ ketika berbicara dengan anak-anak. Ada hal-hal yang wajib diketahui. Tetapi tidak semua perlu diungkapkan. Sesuai kebutuhan dan usia merekalah.

Di saat kami tetap disibukan dengan tugas-tugas protokoler maupun rutin sehari-hari, kami harus mengatur strategi. Ketika sudah basah kuyup dan berada di arus yang tak terduga. Satu-satunya pilihan adalah MAJU TERUS. Meski kadang bertemu arus liar, sakit terantuk batu dan timbul tenggelam, hanya dengan TEKAD dan BISMILLAH, pilihan ini harus diikhtiarkan tanpa putus asa.

“Ya Rabb, yang mengetahui apa yang tersembunyi. Ya Rabb, yang membolak-balikan hati. Tetapkanlah kami, jadikan kami tabah menjalani ikhtiar kami. Kami mohon pada-Mu, berkahilah langkah kami. Amiin”

Kupang Indah - Surabaya, 13 Februari ‘10