Pulau Madura kini sudah tergabung masuk Propinsi Jawa Timur sejak diresmikannya Jembatan Suramadu yang megah itu, pada 10 Juni 2009 lalu oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono….demikian guyonan para Kepala Daerah yang memimpin di pulau Garam itu. Meski sekedar guyonan, karena toh selama ini memang jadi bagian dari Propinsi Jatim, toh ada perasaan ironi juga. Mungkin salah satu sebab ‘keterbelakangan’ Madura selama ini karena letaknya yang terpisah itu.

Cerita Unik Tentang Madura
Saya mengenal Madura juga dari joke-joke yang menyegarkan ruang-ruang kuliah. Terutama dari Dosen alm Dr.Riswandha Imawan, yang asli Madura. Beliau kalau cerita tentang orang Madura selalu membuat terpingkal-pingkal saking lucunya. Dari cerita-ceritanya, sepertinya Maduranesse memang penuh kekonyolan. Entah lugu, entah bodoh. Itulah gambaran pertama yang saya dapatkan.
Anehnya setelah tinggal di Surabaya, saya malah jarang mendengar cerita-cerita konyol tentang orang Madura. Tetapi tidak berarti ‘Madura tak punya cerita lagi’. Justru koleksi cerita Madura bertambah. Ternyata ada yang lain. Saya mulai mengenal sebutan ‘tello lemak’ atau angka-nya 35. Tetapi yang mengagetkan saya, ketika orang menyebutnya, nadanya penuh SINDIRAN.
Mungkin mereka menyindir orang Madura yang susah diatur ’sakarepe dhewe’, jorok dan PKL-nya biang macet jalanan di Surabaya. Wah wah wah
Kawasan kumuh banyak dihuni warga yang melakukan urbanisasi dari Madura. Ada kawasan PKL yang memakan jalan separo lebih juga dikuasai mereka. Di sini banyak sekali ibu-ibu muda usia yang sudah beranak lebih dari 2. Mungkin begitu lulus SD mereka langsung dinikahkan. Tingkat pendidikan yang rendah semakin menambah daftar problem rumah tangga perkotaan yang kompleks. Seperti tingkat kesehatan anak-anak balita mereka. Bahkan mereka menolak anak bayi diberi imunisasi. Bisa dibayangkan problem penyakit menular seperti polio, campak jadi masalah yang sulit terselesaikan. Surabaya tidak pernah memenuhi cakupan imunisasi bayi yang sempurna. Belum lagi problem GIZI BURUK akibat rendahnya pengetahuan cara merawat dan memelihara bayi/anak, mereka tidak tahu GIZI sangat penting bagi perkembangan otak anak. Ditambah lagi lingkungan tempat tinggal yang sulit dijaga kebersihannya. Lengkap sudah penderitaan anak-anak itu. Dan ini menyumbang problematika perkotaan.
Iya sih, yang datang ke kota Surabaya bukan cuma orang Madura. Dari kota-kota lain se Jatim juga. Tapi mayoritas masih Madura. Lihat saja pas pulang mudik atau tradisi TORON pada saat lebaran. Penyebrangan feri bisa antri berjam-jam.
Stigma yang Tidak Adil
Saya memang tidak pernah punya masalah dengan orang Madura. Mereka yang saya kenal selama ini kok yaa baik-baik saja. Karena itu saya mulai belajar melihat mereka dari kacamata yang lebih fair. Kita sudah tahu orang Madura dikenal sebagai PEKERJA KERAS yang ULET sekali. Mereka TANGGUH dalam berbisnis. Para penguasa bisnis besi tua bisa jadi pengusaha kaya raya, yang bisa naik haji tiap tahun.
Seorang teman punya pegawai rumah tangga asli orang Madura yang pintar sekali ‘masak’. Bahkan kalau habis mudik dan pulang kembali ke rumah sang majikan, oleh-oleh yang dibawa dari kampung tidak tanggung-tanggung. Aneka masakan dibawa pake ‘tenong’ keranjang bambu “wah dia anaknya luguuuuu banget, meski awalnya nda bisa apa-apa, untungnya dia nurut. Nda taunya dia pinter masak. Tapi kalau di rumah dia lebih suka kerja ‘laki-laki’. Mbenerin genteng bocor dia bisa lho” tutur teman saya tentang pegawainya itu.
Orang Madura pandai masak, buat makanan enak. Saya pernah bertamu dan disuguhi jajanan yang nampak enak sekali. Tamu-tamu yang datang bahkan antusias menikmati aneka panganan: pastel, cucur, bikang, lapis…memang kelihatan enak sekali.
Tapi saya agak bingung antara kepingin banget dan khawatir. Khawatir tidak bisa menghabiskan panganan enak itu, saking besar potongannya. Secara waktu itu saya masih baru di Surabaya, pindahan dari Jogja, yang panganannya dibuat ‘bite size’. Makanya bingung melihat panganan di Surabaya dibuat dalam size yang besar-besar. “Kalau orang kampung Bu, dirasani tetangga kalau buat panganan kok kecil-kecil. Nanti dikira pelit” kata pegawai saya yang keturunan Madura.
Masih banyak cerita sukses orang Madura. Karena itu saya tambah tidak percaya dengan ’stigma’ yang tidak fair terhadap mereka. Meski demikian, melihat angka kemiskinan yang tinggi di Pulau Madura, bisa jadi kemudian mereka memilih melakukan urbanisasi ke Pulau Jawa, khususnya Jawa Timur. Sambil membawa kebiasaan dari kampung. Mereka adalah komunitas yang solid sekali, kadang sulit berafiliasi dengan penduduk asli. Tunduk pada TOKOH yang dihormati seperti para Ulama/Kyai.
Kerasnya hidup di perkotaan, memaksa mereka bertahan. Sebagian dari mereka, terutama perempuan dan anak-anak, kurang mendapat perhatian pendidikan dan kesehatannya. Mungkin hal itu salah satu penyebab munculnya stigma terhadap mereka.
Pada kenyataannya, ketika berkesempatan berlayar dengan feri ke Madura, saya memang melihat. Potensi di sana belum digali secara maksimal. Memang ada tempat yang tanahnya gersang. Tetapi toh Tuhan Maha Adil. Di beberapa tempat masih ada tanah subur. Bahkan potensi gas bumi terbesar ada di Kepulauan Madura, tepatnya di Kangean.
Batik Madura

Madura juga punya ragam hias batik yang kaya sekali. Batik Madura sudah dikenal di Nusantara. Motif dan tehnik pembuatannya, mencerminkan karakter masyarakat Madura. Ada kain baik yang sengaja dibuat kaku kalau dipakai. “Kalau tidak kaku, orang sini nda mau, dikira bukan baru. Kalau kaku, orang tau dia pake kain baru, karena kalau dipakai kan bunyi ’srek’srek’…”. Nah khan, selera begini tidak perlu diperdebatkan, cukup kita pahami saja.
Mereka punya tehnik pewarnaan batik yang ‘canggih’. BATIK GENTONG, mungkin hanya di Madura. Pewarnaan batik gentong bisa berlangsung beberapa bulan untuk motif ‘alusan’. Harganya pun bersaing dengan jenis batik tulis sutra.

Tiap daerah/Kabupaten di sana punya ciri khas batik. Kekayaan batik mereka luar biasa. Ada gaya yang ‘kasar’ ada yang alusan. Justru tehnik mencanting dengan pola ‘kasar’ itulah kemudian jadi ciri khas batik Madura. Mungkin hal baru yang perlu dipahami bagi yang terbiasa memakai batik alusan buatan Solo atau Jogjakarta. Bahkan bulan ini Batik Sampang Madura terbang ke Amerika Serikat, dibawa oleh designer ibukota Ramli, mengikuti show di sana.
Suramadu membuka Isolasi

Dengan dibukanya jembatan Suramadu yang mempermudah dan mempersingkat akses ke dan dari Madura, tentunya membawa sejuta harapan. Akses yang mudah, akan meningkatkan produktifitas Madura, bukan hanya terlena jadi obyek saja. Madura harus bisa memaksimalkan potensinya, apalagi akses sudah dipermudah. Akan tetapi tantangan besar pun menghadang. Berbagai pihak harus mendukung Madura yang pasti akan mengalami ‘perubahan sosial’ di sana. Ayo kita dukung Madura mengurai isolasi dan membongkar stigma buruk yang tertanan selama ini. Madura adalah harapan baru.
Sby, 14 Juni 09