Feed on
Posts
Comments

setiap pagi, semburat cahaya surga yang masih tersisa mengerdip dengan lembut, mempersilahkan dimulainya sorot cahaya kehidupan…biarkan matahari menjalan kerjanya yang tanpa pamrih


sinar hangat keemasan menyentuh khidmat kala subuh, mengirimkan tanda-tanda kasih sayang-Nya yang tak pernah usai..


matahari menjalankan kerjanya mengirim kehangatan dan harapan

matahari dinanti tetumbuhan, gemerisik pucuk dedaunan menyambut belaian Sang Maha Hidup

matahari membawa keindahan, dalam ramai pagi, dalam hiruk pikuk….lihat cahaya-Nya…inilah kasih sayang-Nya

matahari bekerja tak pernah mengeluh

meski

mungkin saja

mendung kelabu tengah mengejarnya

mungkin saja sang awan berarak sambil membawa dendang hujan

mungkin saja langit siap menaburkan angin

matahari bekerja tanpa pamrih

memberikan kegembiraan pagi, menemani langkah dunia meraih sejuta asa

matahari akan terus bekerja, membawa tanda-tanda kecintaan Sang Khalik pada mahluk-Nya



“terimakasih Tuhan, masih diberi kesempatan menikmati pagi-Mu yang hangat dan indah. Tuhan yang mengetahui apa yang tersembunyi…terimakasih menemani setiap langkah perjalanan…dalam sepi..dalam gempita…Pegangi Aku Ya Allah”

Sby, 23 Maret 09

Sejak empat anak bersamaan waktu sekolahnya, setiap hari - setiap PAGI dan SORE rumah akan selalu gegap GEMPITA.

Pagi hari pasti ramai karena 4 anak berbeda karakter dan kebiasaan, mesti berebut tempat mandi dan jam keberangkatan. Nadia, si sulung sering tak mau ngalah, selalu memilih kamar mandi di kamar Ma. Padahal di depan kamarnya ada kamar mandi. Dia akan berebut dengan adik perempuannya Icha yang punya kesukaan sama. Bisa dibayangkan dua perempuan adu mulut soal kamar mandi!.

Sementara dua adik laki-laki punya gaya yang berbeda. Ijal yang efisien, tidak meributkan soal kamar mandi, tapi selalu lupa bawa handuk. Jadi keramaian kedua adalah teriakan minta handuk.

Si gendhut Nabiel, hobi melamun di atas WC. Ini biang keributan selanjutnya. Para Kakak, akan spontan berteriak minta dia cepat-cepat mandi. Si Nabiel jadi tambah bete dan kemudian mengeluarkan senjata kesukaannya: menangis. Tapi kayaknya anak-anak itu memang sengaja membuat keributan. Harus ada yang jadi korban. Kalau ga Ijal yaa Nabiel.

Puncak keributan tentunya si- Ma yang ‘pecah ndhase’. Ma sedang sibuk memasak, Ijal teriak minta handuk. Lagi buru-buru buat sarapan, Nabiel menangis. Belum lagi para gadis yang sibuk cari kerudung atau kaos kaki dengan membongkar tumpukan cucian yang menggunung. Menjelang keberangkatan, Ma masih harus teriak lagi, Ijal harus minum obat. Mencari wadah kue atau tempat minum yang entah sudah berapa lusin raib, ketinggalan di sekolah. Eh….Pa nambah-nambahin pertanyaan yang selalu sama selama jutaan tahun …”hey siapa yang liat ballpoint Papa?…??!!???”

Prosesi terakhir juga membuat keringat bercucuran. Ketika sarapan sudah tersedia di meja, ada yang minta sarapan di mobil…walah cari wadah yang anti pecah…mindah-mindah lagi. Dan tidak lupa “Ma, uang buat jajan dan infaq”….Ma lari ke kamar, mbongkar-mbongkar dompet cari uang lima ribuan dan receh untuk tol.

Biasanya selalu ada saja anak yang paling lambat. Kalau ga karena Buku Penghubung yaaa karena kerudung. Begitu mereka masuk mobil, keributan belum usai…mereka punya stok energi yang luar biasa…apalagi kalau hanya untuk memperdebatkan ’siapa yang diantar duluan….yang SMA apa yang SD????”

Pintu mobil ditutup….wusssss…para biang ribut itu pun enyah dari hadapan Ma yang sudah ga jelas raut wajahnya….Legaaaaaaa sesaat.

Di dapur dan di dalam rumah, segala kekacauan sabar menanti uluran tangan untuk membereskannya. Wah nanti dulu. Si empu rumah adalah RATU TEGA yang senang hati rumahnya tetap heboh. Soal ini, dia akan melakukan segala cara, agar ada bala bantuan yang menangani kekacauan itu.

Rumah akan sepi hanya terdengar aktivitas rutin yang membosankan. Sang rumah pun diam pasrah. Dan si Ratu Rumah akan memilih kesibukannya sendiri. Sampai nanti di SORE hari yang dinanti-nantikan.

Takala matahari sudah mulai merah dan langit berangsur jingga, anak-anak yang ribut itu dikirim pulang kembali. Hampir 9 jam mereka diasuh oleh guru-guru hebat tiada dua. Sembilan jam mereka ada di rumah yang amat sangat riuh rendah. Si empu rumah adalah Kepala Sekolah yang setiap hari menerima kiriman ribuan anak. Hebat kan Kepala Sekolah itu. Mestinya dia harus masuk surga. Bayangkan tiap hari dia harus bergelut dengan tingkah polah anak-anak yang luar biasa. Padahal para orang tua dan ibu-ibu yang melahirkan anak-anak ini, bisa jadi tidak sanggup mengasuk anak selama itu SETIAP HARI….hah enak sekali para orang tua ini…dititipi satu dua anak saja sudah mengaku pusing….Lha, bagaimana dengan Kepala Sekolah itu? Tentunya lebih amat sangat pusing lagi. Bisa jadi Kepala Sekolah punya stok obat pusing 1 apotik!

Sore hari anak-anak home again. Energi mereka tidak pernah habis. Karena masih kuat membuat rumah gegap gempita lagi. Kesibukan Ma mulai lagi: baju seragam hari itu harus cepat-cepat masuk cucian….tidak lupa meneriaki anak-anak untuk mandi dan sholat maghrib….belajar atau minimal lihat pengumuman di buku penghubung…anak-anak itu juga harus chek n ricek baju seragam esok hari dan menyiapkan buku-buku sendiri…teriakan baru berhenti kalau mereka sudah masuk kamar dan sungguh-sungguh berubah menjadi PENDIAM hanya karena mereka TIDUR.

Begitu setiap hari.

Saat ini adalah masa-masa menikmati segala keributan yang terjadi. Repot tapi amat sangat asyik. Melegakan ketika bisa ikut bersama mereka, ada di tengah keriuhan mereka…menikmati tawa mereka yang merdu….menikmati tangis mereka yang membahana….sampai suatu saat nanti…ketika mereka sudah melangkah ke masa depan-nya sendiri….ah semoga saat itu masih lama.

SBY, 28/10/09

REUNI

Artinya kurang lebih bersatu kembali. Itulah yang terjadi 14 oktober 09 lalu. Setelah hampir 24 tahun, kami sebagian kecil alumni SMP N 1 Purwokerto, Jawa Tengah, bertemu kembali.

Reuni SMP N 1 Purwokerto Angkatan 85

Reuni SMP N 1 Purwokerto Angkatan 85

Tentu saja sudah banyak yang berubah. Baik wajah, cara bicara dan terutama ukuran tubuh…rata-rata sudah pada bengkak semua…maklum angka pun bertambah.

endah-arieswati

ketua-osis

reni-kustanti

Pertemuan singkat dihelat di sebuah ‘dapur masa kini’ yang tentu saja modern dan nyaman sebagaimana namanya ‘urban kitchten’ yang terletak di kawasan CBD di ibukota. Meski singkat, sejenak kami bisa kembali menyesap keceriaan masa remaja di SMP dulu. Keakraban yang terjalin bukan hanya karena romantisme masa lalu saja, tetapi lebih pada kesadaran pentingnya jalinan silaturahmi.

saling-memotret

Dengan REUNI, sejenak mengenang betapa apa yang dilakukan di masa lalu bisa jadi pijakan awal melangkah ke masa kini. Masa kini di mana segalanya berubah. Semangat perubahan ke arah perbaikan, tentu saja diukir melalui masa-masa pertemanan yang penting, masa REMAJA. Segala keindahan, kenakalan, kebandelan, keberanian dan kenekadan masa-masa muda remaja KINI terpatri dalam sosok DEWASA yang lebih matang. Betapa kita tak pernah menyadarinya, betapa penting masa-masa itu.

kel-belajar-2a

Bersyukur sekali, saya ada di lingkungan sekolah terbaik di kota saya waktu itu. Tidak hanya dipaksa belajar menjadi pandai secara akademis saja. Tetapi semangat berprestasi di segala bidang terwadahi di sana, bersama teman-teman dari berbagai kalangan yang menularkan spirit untuk MAJU.

helmi-raden-sarwoto

adityawarman-soe

rajesh-natani

sigit-setia

Aku adalah anak kampung Ragasemangsang. Anak Guru yang PNS. Tinggal di kampung padat di tengah kota. Diterima di sekolah favorit, yang terkenal tempat sekolahnya anak para Pejabat dan orang kaya. Tetapi aku bangga, bertemu mereka, yang tanpa disadari MENULARKAN SPIRIT….aku ingin seperti mereka….ingin seperti saudara-saudara mereka yang kuliah tinggi-tinggi….ingin maju seperti mereka. Karena keinginan itu, semangat juang tumbuh dalam diri-ku. Kalau mau MAJU dan HIDUP LEBIH BAIK yaa harus BERJUANG.

Perjuangan sebagai PELAJAR tentu saja dimulai dengan BELAJAR. Menyerap ilmu-ilmu akademik di kelas-kelas yang dilalui. Belajar menjadi PINTAR, CAKAP dan JUJUR. Yang terakhir ini sangat penting, karena jadi KUNCI dalam perjalanan hidup seterusnya. JUJUR tidak nyontek waktu ulangan. JUJUR berkata-kata. JUJUR dalam melangkah.

Perjuangan juga dimulai dari belajar Organisasi. Melalui pertemanan di kelompok-kelompok ekstra yang diikuti. Membentuk diri terbiasa BEKERJA dalam TEAMWORK.

wil-iis-reni

iis-puger-wilis-minus-raden-sarwoto

Kini setelah 24 tahun, dan masih diberi kesempatan bertemu lagi…sungguh kebahagiaan tak terkira. Rasa syukur tak berkesudahan, melihat teman-teman yang menularkan spirit padaku, semua SEHAT dan SUKSES. Alhamdulillah. Thanks God. Terimakasih, aku pernah berada di antara mereka. Terimakasih karena Tuhan memilihkan aku teman-teman yang baik dan luar biasa. terimakasih karena Tuhan telah menunjukan aku tempat yang tepat untuk melalui masa remaja, menjadi remaja yang baik, meski sedikit nakal dan bandel.

img_0490efore-appart

Semoga, dengan jalinan silaturahmi yang telah terhubung lagi, pertemanan, persahabatan ini dapat menambah KEMANFAATAN dalam hidup kami di dunia ini. Dan menambah semangat BERJUANG untuk selalu menjadi lebih baik dari hari-hari lalu. Amiin.

Sby, 18/10/09

Kira-kira begitulah status FB Bang Ijal. Haaahaaa dia punya FB sekarang. Si Abang yang baru melalui puasa di hari pertama dengan sukses. Alhamdulillah.

Beda banget dengan tahun lalu. Ma agak kerepotan dengan rengekan tiga anak sekaligus. Tahun ini sungguh berkah. Mungkin karena anak-anak sudah mulai besar. Icha sudah kelas V dan Bang Ijal kelas III. Diharapkan tahun 1430 H ini dia bisa puasa penuh untuk seterusnya. Amin.

Meski ada insiden lucu. Sewaktu Ma asyik upload foto di FB, tiba-tiba Bang Ijal teriak “Yaaaaa aku lupa!”….kontan semua menoleh ke arahnya. Terkejut melihat Bang ijal memegang sepotong biskuit dan di mulutnya sudah ada satu dua gigitan…”Ga apa-apa Bang…ayo kumur-kumur…ga apa..Lupa yaa..” Saya pun sedikit menenangkan Bang Ijal yang agak panik. Apalagi si Kakak mulai menertawakannya. Bang Ijal mulai merengek. Ma pun menghentikan sejenak aktifitas di FB “Ga apa Bang. Jangan menangis, nanti malah batal. Bang Ijal kan lupa, ga sengaja, boleh terus puasa. Namanya juga manusia, tempatnya lupa. Sudah ngga apa”

Itulah kejadian yang ‘dinanti-nanti’….Ma lagi menunggu, ada cerita apa nii di hari pertama puasa. Eh ternyata insiden lupa-nya Bang Ijal. Lupa makan biskuit. Yaaa anggap saja rejeki!

Ternyata itu bukan kejadian pertama. Ketika Bang Ijal sudah berhasil ditenangkan, justru gantian si Endhut Nabiel mulai beraksi!

“Ma aku puasa Dhuhur yaa…..” katanya mulai merengek
“Lhooooo kan sudah janji mau puasa Maghrib” kata Ma
“Iya…..tapi aku lapar…hiiiiiks..hiiiiiks” mulailah bulir-bulir air mata berjatuhan di pipi si chubby
“Nabiel lapar yaa?” tanya Ma
“Iya aku lapar, aku mau puasa Dhuhur. Kata Ustadzah di sekolah kan boleh kalau masih belajar”…Nabiel sudah mulai menangis histeris sambil acting memegang perutnya

Pelukan dan bujukan Ma tak mempan kali ini. Nabiel semakin menjadi-jadi. Bahkan dia berlari ke arah meja makan yang hanya tersedia setoples kerupuk. Nabiel sudah berusaha meraihnya. Ma terus berusaha membujuk agar bertahan. Dan ternyata tidak berhasil. Nabiel kelas II sudah pandai cari alasan. Dan perkataan gurunya di sekolah dijadikan pegangan.

Yaah mau bagaimana lagi. Betul Nabiel sedang belajar puasa. Maksud Ma, mulai tahun ini dia bisa puasa penuh sejak hari pertama. Ternyata belum kesampaian. Karena tahun lalu dia bolong 2 hari…yaah masih excuse-lah kalau tahun ini bolong 1. Moga-moga ga cari alasan lagi.

Jadinya Nabiel puasa Dhuhur di hari pertama. Dia sudah janji mau puasa maghrib mulai besok dan seterusnya. Semoga diberi kesehatan dan kelancaran.

Lalu bagaimana dengan Icha?. Tahun lalu seharian dia menggulung diri di tempat tidur, seperti trenggiling. Tahun lalu bahkan dia masih rewel, mengeluh badannya kaku dan kakinya dingin. Tapi Ma berhasil membujuk. Kala itu berhasil, karena saya dibantu Ibu menemani anak-anak puasa. Ibu saya menemani Icha, menggosok kakinya. Jadi beban saya lumayan ringan.

Tahun lalu, saya sampai harus memeluk Bang Ijal dan Nabiel agar berhasil melalui hari pertama. Kekhawatiran sempat timbul tahun ini. Apakah akan serepot tahun lalu? Alhamdulillah ternyata hanya ada kejadian lucu dan hanya Nabiel yang belum kuat menahan diri.

Icha tetap ceria. Ke sana kemari meluncur dengan skate board. Bang Ijal juga, bisa tetap bugar. Ke sana kemari, tak mau berhenti. Nabiel usai buka di siang hari itu, puasa lagi sampai Maghrib. Dan ketika bedhug maghrib menggema di TV, dia berteriak paling heboh, paling keras….yaah maklum sudah duluan dapat amunisi di siang harinya.

Kalau si Nadia, masih sibuk seperti biasa. Apalagi dia jadi panitia Buk-ber….buka bersama teman-teman sekolahnya…jadi sibuk sendirilah. Untung warning Pa agar puasa hari pertama dilalui bersama keluarga dipatuhinya. Meski hari ini, sudah menyodorkan agenda mau buka di luar…..wah-wah ga mau kalah…

Alhamdulillah, hari pertama lancar. Sholat maghrib, Isya dan Tarawih bisa jama’ah di rumah. Pa jadi imamnya. Pa sengaja mengkosongkan waktunya. Di hari pertama puasa sengaja dilalui bersama anak-istri. Tapi esok lusa…yaaa kembali memenuhi undangan warga. Begitulah….Pa kan bukan hanya milik keluarga saja. Ada tanggung jawab yang mesti diembannya. Melayani rakyat!

Semoga kualitas puasa kita semua, semakin hari semakin baik yaaa. Happy Fasting.

Sby, 230809/ 2 Ramadhan 1430 H

Hari ini, 22 Agustus 09, resmi awal puasa Ramadhan 1430H. Ritual puasa yang dinanti akhirnya datang juga. Masih seputar puasanya anak-anak. Terutama Icha, Ijal dan Nabiel yang masih harus ditemani saat sahur dan buka.

Tahun ini semoga Icha masih bisa puasa penuh. Sebagai anak perempuan yang belum menstruasi, semoga tidak ada bolong seperti tahun-tahun sebelumnya. Meski penuh perjuangan di hari pertama, tetapi akhirnya bisa penuh 30 hari puasa.

Tahun lalu, Ijal masih bolong 1. Sebenarnya sih, 1 hari itu dia puasa Bedhug..tapi khan termasuk bolong juga. Semoga mulai tahun ini dia bisa puasa Ramadhan penuh untuk seterusnya. Amin.

Demikian pula dengan si gendhut Nabiel. Tahun lalu bolongnya dua hari. Tapi lumayan, karena masih kelas 1 dan sisa 28 hari bisa puasa penuh, dia dapat award dari sekolah. Selamat yaa. Semoga tahun ini mulai puasa penuh untuk seterusnya yaa Nak. Amin.

Sebagai Ibu, tentu saja saya sudah persiapan jauh hari. Terutama persiapan mental dan raga. Karena meski ada juru masak, tetapi urusan anak-anak saya biasa handel sendiri. Mulai dari bangunin sahur sampe persiapan buka. Yang penting, menemani di awal-awal puasa. Saya mesti menemani mereka melalui beratnya hari pertama puasa.

Kejadian seperti menangis kehausan, teriakan lapar, wajah yang sudah tidak ada senyum sama sekali, atau Icha yang menggulung diri seharian di tempat tidur…adalah pemandangan di hari pertama.

Tapi semua itu saya jadikan moment untuk mengingatkan mereka akan makna puasa. Saya ajak mereka berempati kepada anak-anak yatim piatu yang tidak punya orang tua bahkan tidak punya makanan…betapa mereka sering kelaparan..jadi begitulah rasanya, mengapa kita diwajibkan berpuasa. Salah satunya agar berempati pada yang papa.

Kepada anak yang lebih besar, kotbahnya lain lagi. Di awal-awal puasa kita merasakan lemas dan kadang seperti mau sakit. Itu karena tubuh sedang menyesuaikan diri dan dimulai adanya proses ‘detoksifikasi’ atau penghancuran racun-racun dalam tubuh. Prosesnya ada yang biasa-biasa saja, ada yang sedikit menyakitkan. Begitulah puasa. Selain berpahala juga demi kesehatan.

Saya sendiri juga menyiapkan diri karena harus selalu bangun lebih awal. Biar ga buru-buru, saya membangunkan Bibi jam 2 pagi untuk mulai persiapan sahur. Sementara mulai pukul 2.30 saya akan siapkan susu untuk anak-anak. Meladeni mereka satu per satu agar minum susu dulu. Baru 1 jam kemudian anak-anak dibangunkan lagi untuk makan sahur. Biasanya makan sahur mesti yang berkuah. Cukup dengan sup atau soto atau rawon. Tidak lupa mereka mesti minum air putih. Kalau mereka mau kita tawarkan jus buah setengah jam sebelum makan, biasanya beberapa hari setelah puasa berjalan. Atau kita sediakan sari kurma. Bisa diminum langsung atau dicampur air. Pastinya mereka harus banyak minum selama sahur. Ini yang paling susah.

Khusus Bang Ijal, ada tambahan menu: obat-nya yang harus diminum selama 6 bulan berturut-turut. Untung jadwal minum 2 kali sehari. Jadi bisa diberikan saat sahur dan sesudah buka nanti.

Tahun ini, adzan Subuh berlangsung pukul 04.17. Jadi tidak perlu buru-buru sahur. Tentunya waktu berbuka pun lebih lambat. Di jadwal Imsakyah yang ada di media, untuk wilayah Jawa Timur, waktu berbuka pada jam 17.31

Hari ini, insya allah kami akan melalui hari pertama puasa bersama-sama. Semoga Pa bisa menjadi imam di tarawih nanti malam. Karena hari-hari selanjutnya, Pa mesti memenuhi undangan keliling masjid-masjid. Tapi Ma berjanji, akan tetap bersama anak-anak. Bulan Ramadhan adalah waktu bersama anak-anak.

HAPPY FASTING and wishes All of us have a blissful ramadhan. MARHABAN YAA RAMADHAN

Sby, 220809/1 Ramadhan 1430 H

Madura (1)

Pulau Madura kini sudah tergabung masuk Propinsi Jawa Timur sejak diresmikannya Jembatan Suramadu yang megah itu, pada 10 Juni 2009 lalu oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono….demikian guyonan para Kepala Daerah yang memimpin di pulau Garam itu. Meski sekedar guyonan, karena toh selama ini memang jadi bagian dari Propinsi Jatim, toh ada perasaan ironi juga. Mungkin salah satu sebab ‘keterbelakangan’ Madura selama ini karena letaknya yang terpisah itu.

were-proud-have-suramadu-bridge

Cerita Unik Tentang Madura

Saya mengenal Madura juga dari joke-joke yang menyegarkan ruang-ruang kuliah. Terutama dari Dosen alm Dr.Riswandha Imawan, yang asli Madura. Beliau kalau cerita tentang orang Madura selalu membuat terpingkal-pingkal saking lucunya. Dari cerita-ceritanya, sepertinya Maduranesse memang penuh kekonyolan. Entah lugu, entah bodoh. Itulah gambaran pertama yang saya dapatkan.

Anehnya setelah tinggal di Surabaya, saya malah jarang mendengar cerita-cerita konyol tentang orang Madura. Tetapi tidak berarti ‘Madura tak punya cerita lagi’. Justru koleksi cerita Madura bertambah. Ternyata ada yang lain. Saya mulai mengenal sebutan ‘tello lemak’ atau angka-nya 35. Tetapi yang mengagetkan saya, ketika orang menyebutnya, nadanya penuh SINDIRAN.

Mungkin mereka menyindir orang Madura yang susah diatur ’sakarepe dhewe’, jorok dan PKL-nya biang macet jalanan di Surabaya. Wah wah wah
Kawasan kumuh banyak dihuni warga yang melakukan urbanisasi dari Madura. Ada kawasan PKL yang memakan jalan separo lebih juga dikuasai mereka. Di sini banyak sekali ibu-ibu muda usia yang sudah beranak lebih dari 2. Mungkin begitu lulus SD mereka langsung dinikahkan. Tingkat pendidikan yang rendah semakin menambah daftar problem rumah tangga perkotaan yang kompleks. Seperti tingkat kesehatan anak-anak balita mereka. Bahkan mereka menolak anak bayi diberi imunisasi. Bisa dibayangkan problem penyakit menular seperti polio, campak jadi masalah yang sulit terselesaikan. Surabaya tidak pernah memenuhi cakupan imunisasi bayi yang sempurna. Belum lagi problem GIZI BURUK akibat rendahnya pengetahuan cara merawat dan memelihara bayi/anak, mereka tidak tahu GIZI sangat penting bagi perkembangan otak anak. Ditambah lagi lingkungan tempat tinggal yang sulit dijaga kebersihannya. Lengkap sudah penderitaan anak-anak itu. Dan ini menyumbang problematika perkotaan.

Iya sih, yang datang ke kota Surabaya bukan cuma orang Madura. Dari kota-kota lain se Jatim juga. Tapi mayoritas masih Madura. Lihat saja pas pulang mudik atau tradisi TORON pada saat lebaran. Penyebrangan feri bisa antri berjam-jam.

Stigma yang Tidak Adil

Saya memang tidak pernah punya masalah dengan orang Madura. Mereka yang saya kenal selama ini kok yaa baik-baik saja. Karena itu saya mulai belajar melihat mereka dari kacamata yang lebih fair. Kita sudah tahu orang Madura dikenal sebagai PEKERJA KERAS yang ULET sekali. Mereka TANGGUH dalam berbisnis. Para penguasa bisnis besi tua bisa jadi pengusaha kaya raya, yang bisa naik haji tiap tahun.

Seorang teman punya pegawai rumah tangga asli orang Madura yang pintar sekali ‘masak’. Bahkan kalau habis mudik dan pulang kembali ke rumah sang majikan, oleh-oleh yang dibawa dari kampung tidak tanggung-tanggung. Aneka masakan dibawa pake ‘tenong’ keranjang bambu “wah dia anaknya luguuuuu banget, meski awalnya nda bisa apa-apa, untungnya dia nurut. Nda taunya dia pinter masak. Tapi kalau di rumah dia lebih suka kerja ‘laki-laki’. Mbenerin genteng bocor dia bisa lho” tutur teman saya tentang pegawainya itu.

Orang Madura pandai masak, buat makanan enak. Saya pernah bertamu dan disuguhi jajanan yang nampak enak sekali. Tamu-tamu yang datang bahkan antusias menikmati aneka panganan: pastel, cucur, bikang, lapis…memang kelihatan enak sekali.

Tapi saya agak bingung antara kepingin banget dan khawatir. Khawatir tidak bisa menghabiskan panganan enak itu, saking besar potongannya. Secara waktu itu saya masih baru di Surabaya, pindahan dari Jogja, yang panganannya dibuat ‘bite size’. Makanya bingung melihat panganan di Surabaya dibuat dalam size yang besar-besar. “Kalau orang kampung Bu, dirasani tetangga kalau buat panganan kok kecil-kecil. Nanti dikira pelit” kata pegawai saya yang keturunan Madura.

Masih banyak cerita sukses orang Madura. Karena itu saya tambah tidak percaya dengan ’stigma’ yang tidak fair terhadap mereka. Meski demikian, melihat angka kemiskinan yang tinggi di Pulau Madura, bisa jadi kemudian mereka memilih melakukan urbanisasi ke Pulau Jawa, khususnya Jawa Timur. Sambil membawa kebiasaan dari kampung. Mereka adalah komunitas yang solid sekali, kadang sulit berafiliasi dengan penduduk asli. Tunduk pada TOKOH yang dihormati seperti para Ulama/Kyai.

Kerasnya hidup di perkotaan, memaksa mereka bertahan. Sebagian dari mereka, terutama perempuan dan anak-anak, kurang mendapat perhatian pendidikan dan kesehatannya. Mungkin hal itu salah satu penyebab munculnya stigma terhadap mereka.

Pada kenyataannya, ketika berkesempatan berlayar dengan feri ke Madura, saya memang melihat. Potensi di sana belum digali secara maksimal. Memang ada tempat yang tanahnya gersang. Tetapi toh Tuhan Maha Adil. Di beberapa tempat masih ada tanah subur. Bahkan potensi gas bumi terbesar ada di Kepulauan Madura, tepatnya di Kangean.

Batik Madura
btk-tulis-bangkalan

Madura juga punya ragam hias batik yang kaya sekali. Batik Madura sudah dikenal di Nusantara. Motif dan tehnik pembuatannya, mencerminkan karakter masyarakat Madura. Ada kain baik yang sengaja dibuat kaku kalau dipakai. “Kalau tidak kaku, orang sini nda mau, dikira bukan baru. Kalau kaku, orang tau dia pake kain baru, karena kalau dipakai kan bunyi ’srek’srek’…”. Nah khan, selera begini tidak perlu diperdebatkan, cukup kita pahami saja.

Mereka punya tehnik pewarnaan batik yang ‘canggih’. BATIK GENTONG, mungkin hanya di Madura. Pewarnaan batik gentong bisa berlangsung beberapa bulan untuk motif ‘alusan’. Harganya pun bersaing dengan jenis batik tulis sutra.

batik-gentong

Tiap daerah/Kabupaten di sana punya ciri khas batik. Kekayaan batik mereka luar biasa. Ada gaya yang ‘kasar’ ada yang alusan. Justru tehnik mencanting dengan pola ‘kasar’ itulah kemudian jadi ciri khas batik Madura. Mungkin hal baru yang perlu dipahami bagi yang terbiasa memakai batik alusan buatan Solo atau Jogjakarta. Bahkan bulan ini Batik Sampang Madura terbang ke Amerika Serikat, dibawa oleh designer ibukota Ramli, mengikuti show di sana.

Suramadu membuka Isolasi

pantai-siring-kemunign-bangkalan-madura

Dengan dibukanya jembatan Suramadu yang mempermudah dan mempersingkat akses ke dan dari Madura, tentunya membawa sejuta harapan. Akses yang mudah, akan meningkatkan produktifitas Madura, bukan hanya terlena jadi obyek saja. Madura harus bisa memaksimalkan potensinya, apalagi akses sudah dipermudah. Akan tetapi tantangan besar pun menghadang. Berbagai pihak harus mendukung Madura yang pasti akan mengalami ‘perubahan sosial’ di sana. Ayo kita dukung Madura mengurai isolasi dan membongkar stigma buruk yang tertanan selama ini. Madura adalah harapan baru.

Sby, 14 Juni 09


Hari Minggu, 24 Mei 2009 lalu, jadi pengalaman baru buat keluarga kami, khususnya anak-anak. Mengajak mereka menguak sisi lain kekayaan dan potensi terpendan wisata pantai Surabaya.

Nadia Icha Ijal Nabiel at Bozem Wonorejo Rungkut

Nadia Icha Ijal Nabiel at Bozem Wonorejo Rungkut

Arif n Wilis tanam mangrove bersama Pramuka

Arif n Wilis tanam mangrove bersama Pramuka

This is my mangrove

This is my mangrove

kami-sudah-menanam-dan-akan-menjaga-mangrove-kami

jangan-takut-kotor-demi-mangrove-kita

Kawasan Wonorejo Kecamatan Rungkut Kota Surabaya, ternyata menyimpan aset yang masih sangat terbuka untuk dikembangkan dan dijual sebagai atraksi wisata yang cukup menantang. Kawasan di timur Surabaya ini memang terus dikembangkan oleh masyarakat setempat. Dimulai dengan konrvasi lahan, salah satunya menggalakan penanaman mangrove untuk menjaga pantai dari abrasi. Juga semakin nyata ancaman global warming, dengan hilangnya berhektar-hektar lahan pantai akibat naiknya permukaan air laut. Bukti bahwa global warming memang tengah mengancam. Luar biasa, melalui swadaya masyarakat, Kelurahan Wonorejo berhasil mengembangkan proyek penanaman mangrove. Dan kini telah menjadi agenda rutin bersama Pemerintah Kota dan segenap elemen masyarakat di luar kawasan itu, untuk ikut serta menjaga kawasan pantai yang eksotik.

Bibit mangrove yang akan ditanam

Bibit mangrove yang akan ditanam

Saya dan anak-anak juga baru sekali ini, berlayar menyusuri daerah muara pantai timur hingga selat Madura. Dan itu asyiik sekali. Kawasan yang menyimpan habitat alam yang asri, tidak hanya menjadi tempat tinggal aneka mahluk melata, juga habitat burung-burung.

beneran-nih-kita-berperahu-di-pantai-timur-surabaya

dont-forget-the-safety-jacket

mau-ke-mangrove-center-naik-speedboat

on-speedboat-with-pa-for-second-cruise

Apalagi, melalui FKPM (Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat) dengan tokohnya Pak Djoko, gotong royong mendirikan Pos Pantau, sederhana tapi berharga. Tempat yang asyik untuk piknik, apalagi di sana bisa memesan bandeng bakar organik. Wow. Setelah menanam mangrove, kemudian berperahu menikmati sepoi angin pantai, diakhiri makan bandeng bakar. Piknik yang sempurna, anak-anak happy sekali.

wakgus-arif-n-wilis-di-mangrove-center

nad-pamer-bandeng-organik

bandeng-bakar-organik-hanya-di-mangrove-center

Kawasan ini masih bisa dikembangkan lagi. Dengan menambah beberapa rumah panggung dan toilette yang bersih, sudah cukup menarik wisatawan yang menyukai konsep alam. Jalan ke arah sana pun cukup dipoles agak lebih aman, membiarkan sedikit ‘keliaran’ alam, akan menjadi daya tarik sendiri.

seperti-hendak-menuju-dunia-tengah-lor

bye

di-atas-selat-madura
Ayo menanam mangrove, Ayo jaga pantai kita dan mari ber-ekowisata

Welcome to Bozem Wonoreje Rungkut - Surabaya

Sby, 27 Mei 09
Foto by: Wilis n Nadia

Bulan Mei memang istimewa bagi keluarga kami. Juga buat kota kami: Surabaya.
Pada Mei ada 3 orang istimewa yang punya tanggal kelahiran berdekatan.

Icha, putri ke dua lahir 8 Mei. Sayang ultahnya terlewati. Meski kue ultah sudah disediakan, tapi tersimpan di kulkas sampai 4 hari, baru hari Selasa lalu ritual potong kue dilaksanakan. Tetapi, si gadis bermata indah sudah ngoceh sambil senyum-senyum sendiri, mengingatkan Pa akan hadiah yang sudah dipilihnya sendiri

“Hari Jumat aku ulang tahun lho” katanya sambil memperlihatkan gigi kelincinya

Pa cuma tersenyum mengingat tagihan hadiah yang sudah di depan mata. Pada hari H, aku cuma bisa menelpon Icha, karena waktu itu masih menemani Bang Ijal dirawat di Rumah Sakit. Jadi hanya ucapan selamat by phone dan doa yang semoga tak pernah lupa kudaraskan untuk kesehatan anak-anak.

Masih ada lagi yang mau ultah. Pa ultah tanggal 14 Mei. Seperti biasa, paling potong kue atau makan-makan. Tidak pernah lebih dari itu. Hadiah juga tidak ada yang besar-besar. Karena perhatian anak-anak sudah terlalu besar. Bang Ijal sudah membuat ucapan yang dibuat handmade, begitu dia tiba di rumah sekembalinya dari RS. Dia pilih gambar di komputer dan mencetaknya dan menempelkan di kertas yang penuh hiasan.

Nabiel, sedang merengek minta kaos putih yang mau dicat entah apa, “Besok kan Pa ulang tahun, aku mau buat hadiah buat Pa” katanya dengan wajah bayinya.

Yang lain entah buat kejutan apa. Ma mau kasih hadiah apa?….Hadiah ucapan selamat dan doa seperti yang sudah-sudah.

Lagian ultah Pa, ga usah dirayakan pun sudah pasti meriah. Apalagi setelah Pa bergabung di situs jaringan sosial yang lagi beken di Indonesia: Facebook. Ultah-nya jauh lebih seru. Orang dari mana-mana mengirimkan ucapan selamat, hadiah dan gambar lewat dunia maya.

Naa tanggal 30 Mei, giliran si gendhut Nabiel yang ultah. Sudah pesen hadiah jauh hari. Ma disuruh cari di toko mainan di sebuah pusat grosir. Dia memang hobi mengatur orang. Masa kita yang didikte-nya untuk beli hadiah. Padahal kalau Nabiel dapat hadiah, sama artinya yang lain pun kudu dapat hadiah juga. Begini repotnya kalau jarak anak terlalu dekat. Kalau Nabiel minta skuter, Bang Ijal dan Kakak Icha kudu dibelikan juga….ah bulan Mei selalu ekstra budget.

Yang terakhir gong-nya pada tanggal 31 Mei, kota Surabaya yang ulang tahun. Tahun ini ultah ke 716…ih tua amat yaa. Beberapa tahun belakangan ini, puncak acara digelar Konser Musik. Icha anak kesayangan Pa, jauh hari sudah pesan untuk mendatangkan Project Pop. Seperti biasa, keinginannya bakal keturutan, insya allah, kalau tidak ada aral melintang. Jadi tidaknya, yaaa tunggu saja tgl 31 Mei, di Taman Surya.

Happy May Celebration
Semoga selalu sehat semuanya yaa
Dan bersama-sama membuat Kota tercinta jadi lebih indah, aman dan nyaman.

Sby, Mei 13 ‘09

Apa yang kita rasakan di setiap hari kelahiran?
Anak-anak akan berharap sebuah hadiah dan perayaan
Si ABG sudah bisa mendiktekan suatu keinginan

Lalu, apa yang kita inginkan?
Ketika sadar atau tidak telah berada di sebuah masa dan telah melewatiwaktu sebelum ini dengan begitu rupa? Ketika suka atau tidak suka berada di era penuh segala keinginan duniawi? Ketika mau tidak mau telah sampai di ambang akhir ‘keberanian’ dalam ukuran normativ?

Hari ini adalah hadiah
Setiap hari adalah anugerah
Seluas harapan yang didaraskan orang tua, saudara dan sanak keluarga
Selangit ungkapan kasih sayang penuh pengharapan

Hari ini adalah hadiah
Setiap hari adalah anugerah
Yakin saja Tuhan selalu mengirimkan kepada kita orang-orang pilihanNya
Peristiwa-peristiwa yang jadi batu ujian kita dan kesenangan-kesenangan yang jadi hiasan hidup kita
Melalui rahasia-rahasia yang disimpan rapi dalam kepekaan

Terimakasih Tuhan selalu menjaga-ku
Melangkah dalam pilihan dan keyakinan tuntunanNya
Mengirimkan orang tua yang selalu tulus mendoakan kesejahteraan dan keselamatan
Mengirimkan orang-orang yang menjadikan aku ada dalam ingatan dan doa-doa mereka
Mempercayakan anak-anak yang membuatku merasakan wujud Tuhan dalam jelmaan tawa dan cahaya kebahagiaan yang hangat seperti bau surga
Mengirimkan laki-laki yang menjadi sandaran, berbagi dan untuk saling menjaga

Terimakasih Tuhan selalu menjaga-ku
Megirimkan teman dan sahabat yang peduli dan senantiasa membuatku kuat

Hari ini adalah hadiah
Setiap hari adalah anugerah

Tuhan terimakasih atas karuniaMu sampai detik ini
Semoga terus menjaga aku mengemban kepercayaanMu, membalas budi baik segala hadiah dan anegurah yang telah Kau berikan pada-ku
Semoga masih banyak waktu buat-ku agar menjadi berguna bagi semua orang dan semua mahluk-Mu

13 april 09

Malu Hati

Memasuki bulan April, bukan cuma anak saya, Nadia yang mau UNAS yg deg-deg an…saya juga tambah deg-deg an. Apa pasal? Jauh hari baik Nadia maupun sekolah sudah warning “saat UNAS nanti Ma n Pa ikut khataman Quran yaa di masjid sekolah. Doa-in anak-anak semua”

Bukan soal tidak mau…atau tidak bisa baca Quran. Masalahnya bacaan saya tidak up to date sama sekali. Maklum metode pembelajaran yang jauh berbeda dengan anak-anak di sekolah. Gampangnya ‘Bisa baca tapi asal bisa…’

Sebenarnya saya sudah berusaha mengatasi ‘keterbelakangan’ ini sejak Nadia masuk SD. Kebetulan di sekolah ada semacam kelas baca Quran untuk orang tua murid. Selain membiasakan membaca Quran, juga agar bacaan orang tua lebih tepat, karena pelajaran Quran di sekolah ini sudah teruji. Lengkap sekali. Jaman dulu mana kalau ga sekolah di Madrasah atau Pesantren mana kenal kita dengan ‘Ghorib, Tarjim’ dan lain-lain.

Nah, ceritanya sejak Nadia kelas 2 SD kalau ga salah, saya ikut kelas baca Quran untuk orang tua murin setiap hari Sabtu. Ada test segala. Saya pikir karena sudah pernah les privat dan sudah mengaji Quran, saya tinggal melanjutkan…..eh ternyata saya harus mengulang….JILID 1…..waaaaah….ya sudah saya jalani saja. Sampai beberapa jilid saya lewati kalau ga salah lagi jilid 5. Kurang 1 jilid lagi sudah masuk kelas Al Quran.

Tetapi ceritanya…agak mundur lagi..

Sewaktu Nadia kelas 2, artinya umur dia 7 tahun dan adiknya masih 2 tahun. Belum lagi adiknya genap berumur 2 tahun, saya hamil anak ke 3. Saya masih terus belajar tiap Sabtu sampai menjelang ujian jilid 5…eh mulai rewel tubuh saya. Sejak dinyatakan positif hamil anak ke 3, saya mengalami perbedaan dalam diri saya. Tubuh lbh banyak rewel. Batuk terus ga ada matinya. Keadaan demikian sangat mengganggu aktivitas. Sampai akhirnya saya berhenti belajar di tengah jalan. Padahal hampir ujian. Sayang sekali. Mau tidak mau, tubuh tidak bisa diajak kompromi.

Saya berniat melanjutkan pelajaran setelah kelahiran Bang Ijal. Begitu dia 4 bulan dan sudah tidak ASI Eksklusif lagi (dulu ASI Eksklusif s/d 4 bulan..sekarang 6 bulan), saya masuk kelas lagi. Di tes lagi..mengulang 2 jilid di bawah…saya pun jalani saja..toh prinsip saya belajar sepanjang hayat.

Tapi eh….ketika Bang Ijal umur 6 bulan…saya dinyatakan positif lagi….O O….kesundulan ceritanya…akhir cerita..pelajaran mengaji terbengkelai lagi…

Ketika anak ke 4 sudah lahir…dengan Karier Bapak-nya yang lagi di puncak…dengan 4 anak kecil…saya harus ambil alih seorang diri ngurus anak-anak. Tiap hari jadi sopir. Antar jemput si Kakak, meski akhirnya menyerah, dan si Kakak mesti ikut antar jemput sekolah bareng teman-temannya. Toh saya masih harus handel 3 anak kecil yang usianya nyaris berurutan. Setiap kali pergi, saya harus bawa mereka. Nyetir mobil sambil megangi dot susu. Nyaris waktu saya habis. Sekali lagi pelajaran mengaji terbekelai lagi.

Oke diniatkan lagi belajar. Kali ini sudah lebih realistis. Dengan tekad bulat, saya sudah rencanakan, begitu si bungsu Nabiel umur 3 tahun, saya harus ke luar rumah lagi. Terjun ke arena publik lagi. Entah kerja di LSM atau merintis usaha entah apa. Termasuk belajar ngaji lagi di sekolah. Wis mengulang jilid 1 lagi juga nda apa!

Benar saja, waktu itu akhirnya datang juga. Nabiel 3 tahun. Dan saya mulai belajar meninggalkan anak-anak.

Tetapi bukan seperti yang saya rencanakan. Saya memang harus meninggalkan anak-anak, tapi untuk sebuah kerja yang lain. Dalam hitungan hari, segalanya berubah, roller coaster yang tadinya berjalan pelan, tiba-tiba harus putar haluan dan berbalik arah dengan cepat sekali.

Tidak ada dalam pikiran saya, menjadi istri Pejabat ketika suami akhirnya jadi Wakil pimpinan daerah…saya harus memegang konsekuensi sebagai istrinya. Bukan suami saja yang harus bekerja menjalankan amanah. Saya pun tiba-tiba dapat pekerjaan segunung. Kerja-kerja-kerja….sosial: di PKK, Dekranas….belum lagi forum-forum yang saya datangi.

Nyaris tak punya waktu. Malah di hari Sabtu yang rencananya saya pake untuk belajar mengaji lagi di sekolah, seringkali acara padat mulai pagi. Kami harus menjalaninya.

Sampai akhirnya beberpa tahun berjalan. Bahkan Nabiel sudah kelas 1 SD….saya masih punya niat belajar lagi…tapi kadang bingung soal waktu. Pernah menanyakan untuk panggil guru saja, tetapi waktunya juga belum bisa matching.

Semoga segera ada solusi yang adil, saya bisa belajar mengaji lagi dan tetap menyelesaikan kerja sosial. Teman-teman seangkatan dulu sudah canggih-canggih semua. Ga bingung-bingung kalau ditanya anaknya. Saya sih masih bisa nemani mereka kalau mengaji JILID…tapi kalau Icha sudah tanya Ghorib…wah ketahuan ibu-nya masih ‘bodoh’ soal itu. Lha maqom ibu-nya baru jilid…yaa kalau anak-anak sudah LULUS…ibunya ini masih kelas Kejar Paket.

Wah kudu mengejar ketinggalan nih. Malu ah sama anak-anak. Lebih malu lagi sama Dia Yang Maha Bijak….aduh malu hati-ku…

Sby, 6 April ‘09

Older Posts »