Feed on
Posts
Comments

setiap pagi, semburat cahaya surga yang masih tersisa mengerdip dengan lembut, mempersilahkan dimulainya sorot cahaya kehidupan…biarkan matahari menjalan kerjanya yang tanpa pamrih


sinar hangat keemasan menyentuh khidmat kala subuh, mengirimkan tanda-tanda kasih sayang-Nya yang tak pernah usai..


matahari menjalankan kerjanya mengirim kehangatan dan harapan

matahari dinanti tetumbuhan, gemerisik pucuk dedaunan menyambut belaian Sang Maha Hidup

matahari membawa keindahan, dalam ramai pagi, dalam hiruk pikuk….lihat cahaya-Nya…inilah kasih sayang-Nya

matahari bekerja tak pernah mengeluh

meski

mungkin saja

mendung kelabu tengah mengejarnya

mungkin saja sang awan berarak sambil membawa dendang hujan

mungkin saja langit siap menaburkan angin

matahari bekerja tanpa pamrih

memberikan kegembiraan pagi, menemani langkah dunia meraih sejuta asa

matahari akan terus bekerja, membawa tanda-tanda kecintaan Sang Khalik pada mahluk-Nya



“terimakasih Tuhan, masih diberi kesempatan menikmati pagi-Mu yang hangat dan indah. Tuhan yang mengetahui apa yang tersembunyi…terimakasih menemani setiap langkah perjalanan…dalam sepi..dalam gempita…Pegangi Aku Ya Allah”

Sby, 23 Maret 09

Madura (1)

Pulau Madura kini sudah tergabung masuk Propinsi Jawa Timur sejak diresmikannya Jembatan Suramadu yang megah itu, pada 10 Juni 2009 lalu oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono….demikian guyonan para Kepala Daerah yang memimpin di pulau Garam itu. Meski sekedar guyonan, karena toh selama ini memang jadi bagian dari Propinsi Jatim, toh ada perasaan ironi juga. Mungkin salah satu sebab ‘keterbelakangan’ Madura selama ini karena letaknya yang terpisah itu.

were-proud-have-suramadu-bridge

Cerita Unik Tentang Madura

Saya mengenal Madura juga dari joke-joke yang menyegarkan ruang-ruang kuliah. Terutama dari Dosen alm Dr.Riswandha Imawan, yang asli Madura. Beliau kalau cerita tentang orang Madura selalu membuat terpingkal-pingkal saking lucunya. Dari cerita-ceritanya, sepertinya Maduranesse memang penuh kekonyolan. Entah lugu, entah bodoh. Itulah gambaran pertama yang saya dapatkan.

Anehnya setelah tinggal di Surabaya, saya malah jarang mendengar cerita-cerita konyol tentang orang Madura. Tetapi tidak berarti ‘Madura tak punya cerita lagi’. Justru koleksi cerita Madura bertambah. Ternyata ada yang lain. Saya mulai mengenal sebutan ‘tello lemak’ atau angka-nya 35. Tetapi yang mengagetkan saya, ketika orang menyebutnya, nadanya penuh SINDIRAN.

Mungkin mereka menyindir orang Madura yang susah diatur ’sakarepe dhewe’, jorok dan PKL-nya biang macet jalanan di Surabaya. Wah wah wah
Kawasan kumuh banyak dihuni warga yang melakukan urbanisasi dari Madura. Ada kawasan PKL yang memakan jalan separo lebih juga dikuasai mereka. Di sini banyak sekali ibu-ibu muda usia yang sudah beranak lebih dari 2. Mungkin begitu lulus SD mereka langsung dinikahkan. Tingkat pendidikan yang rendah semakin menambah daftar problem rumah tangga perkotaan yang kompleks. Seperti tingkat kesehatan anak-anak balita mereka. Bahkan mereka menolak anak bayi diberi imunisasi. Bisa dibayangkan problem penyakit menular seperti polio, campak jadi masalah yang sulit terselesaikan. Surabaya tidak pernah memenuhi cakupan imunisasi bayi yang sempurna. Belum lagi problem GIZI BURUK akibat rendahnya pengetahuan cara merawat dan memelihara bayi/anak, mereka tidak tahu GIZI sangat penting bagi perkembangan otak anak. Ditambah lagi lingkungan tempat tinggal yang sulit dijaga kebersihannya. Lengkap sudah penderitaan anak-anak itu. Dan ini menyumbang problematika perkotaan.

Iya sih, yang datang ke kota Surabaya bukan cuma orang Madura. Dari kota-kota lain se Jatim juga. Tapi mayoritas masih Madura. Lihat saja pas pulang mudik atau tradisi TORON pada saat lebaran. Penyebrangan feri bisa antri berjam-jam.

Stigma yang Tidak Adil

Saya memang tidak pernah punya masalah dengan orang Madura. Mereka yang saya kenal selama ini kok yaa baik-baik saja. Karena itu saya mulai belajar melihat mereka dari kacamata yang lebih fair. Kita sudah tahu orang Madura dikenal sebagai PEKERJA KERAS yang ULET sekali. Mereka TANGGUH dalam berbisnis. Para penguasa bisnis besi tua bisa jadi pengusaha kaya raya, yang bisa naik haji tiap tahun.

Seorang teman punya pegawai rumah tangga asli orang Madura yang pintar sekali ‘masak’. Bahkan kalau habis mudik dan pulang kembali ke rumah sang majikan, oleh-oleh yang dibawa dari kampung tidak tanggung-tanggung. Aneka masakan dibawa pake ‘tenong’ keranjang bambu “wah dia anaknya luguuuuu banget, meski awalnya nda bisa apa-apa, untungnya dia nurut. Nda taunya dia pinter masak. Tapi kalau di rumah dia lebih suka kerja ‘laki-laki’. Mbenerin genteng bocor dia bisa lho” tutur teman saya tentang pegawainya itu.

Orang Madura pandai masak, buat makanan enak. Saya pernah bertamu dan disuguhi jajanan yang nampak enak sekali. Tamu-tamu yang datang bahkan antusias menikmati aneka panganan: pastel, cucur, bikang, lapis…memang kelihatan enak sekali.

Tapi saya agak bingung antara kepingin banget dan khawatir. Khawatir tidak bisa menghabiskan panganan enak itu, saking besar potongannya. Secara waktu itu saya masih baru di Surabaya, pindahan dari Jogja, yang panganannya dibuat ‘bite size’. Makanya bingung melihat panganan di Surabaya dibuat dalam size yang besar-besar. “Kalau orang kampung Bu, dirasani tetangga kalau buat panganan kok kecil-kecil. Nanti dikira pelit” kata pegawai saya yang keturunan Madura.

Masih banyak cerita sukses orang Madura. Karena itu saya tambah tidak percaya dengan ’stigma’ yang tidak fair terhadap mereka. Meski demikian, melihat angka kemiskinan yang tinggi di Pulau Madura, bisa jadi kemudian mereka memilih melakukan urbanisasi ke Pulau Jawa, khususnya Jawa Timur. Sambil membawa kebiasaan dari kampung. Mereka adalah komunitas yang solid sekali, kadang sulit berafiliasi dengan penduduk asli. Tunduk pada TOKOH yang dihormati seperti para Ulama/Kyai.

Kerasnya hidup di perkotaan, memaksa mereka bertahan. Sebagian dari mereka, terutama perempuan dan anak-anak, kurang mendapat perhatian pendidikan dan kesehatannya. Mungkin hal itu salah satu penyebab munculnya stigma terhadap mereka.

Pada kenyataannya, ketika berkesempatan berlayar dengan feri ke Madura, saya memang melihat. Potensi di sana belum digali secara maksimal. Memang ada tempat yang tanahnya gersang. Tetapi toh Tuhan Maha Adil. Di beberapa tempat masih ada tanah subur. Bahkan potensi gas bumi terbesar ada di Kepulauan Madura, tepatnya di Kangean.

Batik Madura
btk-tulis-bangkalan

Madura juga punya ragam hias batik yang kaya sekali. Batik Madura sudah dikenal di Nusantara. Motif dan tehnik pembuatannya, mencerminkan karakter masyarakat Madura. Ada kain baik yang sengaja dibuat kaku kalau dipakai. “Kalau tidak kaku, orang sini nda mau, dikira bukan baru. Kalau kaku, orang tau dia pake kain baru, karena kalau dipakai kan bunyi ’srek’srek’…”. Nah khan, selera begini tidak perlu diperdebatkan, cukup kita pahami saja.

Mereka punya tehnik pewarnaan batik yang ‘canggih’. BATIK GENTONG, mungkin hanya di Madura. Pewarnaan batik gentong bisa berlangsung beberapa bulan untuk motif ‘alusan’. Harganya pun bersaing dengan jenis batik tulis sutra.

batik-gentong

Tiap daerah/Kabupaten di sana punya ciri khas batik. Kekayaan batik mereka luar biasa. Ada gaya yang ‘kasar’ ada yang alusan. Justru tehnik mencanting dengan pola ‘kasar’ itulah kemudian jadi ciri khas batik Madura. Mungkin hal baru yang perlu dipahami bagi yang terbiasa memakai batik alusan buatan Solo atau Jogjakarta. Bahkan bulan ini Batik Sampang Madura terbang ke Amerika Serikat, dibawa oleh designer ibukota Ramli, mengikuti show di sana.

Suramadu membuka Isolasi

pantai-siring-kemunign-bangkalan-madura

Dengan dibukanya jembatan Suramadu yang mempermudah dan mempersingkat akses ke dan dari Madura, tentunya membawa sejuta harapan. Akses yang mudah, akan meningkatkan produktifitas Madura, bukan hanya terlena jadi obyek saja. Madura harus bisa memaksimalkan potensinya, apalagi akses sudah dipermudah. Akan tetapi tantangan besar pun menghadang. Berbagai pihak harus mendukung Madura yang pasti akan mengalami ‘perubahan sosial’ di sana. Ayo kita dukung Madura mengurai isolasi dan membongkar stigma buruk yang tertanan selama ini. Madura adalah harapan baru.

Sby, 14 Juni 09


Hari Minggu, 24 Mei 2009 lalu, jadi pengalaman baru buat keluarga kami, khususnya anak-anak. Mengajak mereka menguak sisi lain kekayaan dan potensi terpendan wisata pantai Surabaya.

Nadia Icha Ijal Nabiel at Bozem Wonorejo Rungkut

Nadia Icha Ijal Nabiel at Bozem Wonorejo Rungkut

Arif n Wilis tanam mangrove bersama Pramuka

Arif n Wilis tanam mangrove bersama Pramuka

This is my mangrove

This is my mangrove

kami-sudah-menanam-dan-akan-menjaga-mangrove-kami

jangan-takut-kotor-demi-mangrove-kita

Kawasan Wonorejo Kecamatan Rungkut Kota Surabaya, ternyata menyimpan aset yang masih sangat terbuka untuk dikembangkan dan dijual sebagai atraksi wisata yang cukup menantang. Kawasan di timur Surabaya ini memang terus dikembangkan oleh masyarakat setempat. Dimulai dengan konrvasi lahan, salah satunya menggalakan penanaman mangrove untuk menjaga pantai dari abrasi. Juga semakin nyata ancaman global warming, dengan hilangnya berhektar-hektar lahan pantai akibat naiknya permukaan air laut. Bukti bahwa global warming memang tengah mengancam. Luar biasa, melalui swadaya masyarakat, Kelurahan Wonorejo berhasil mengembangkan proyek penanaman mangrove. Dan kini telah menjadi agenda rutin bersama Pemerintah Kota dan segenap elemen masyarakat di luar kawasan itu, untuk ikut serta menjaga kawasan pantai yang eksotik.

Bibit mangrove yang akan ditanam

Bibit mangrove yang akan ditanam

Saya dan anak-anak juga baru sekali ini, berlayar menyusuri daerah muara pantai timur hingga selat Madura. Dan itu asyiik sekali. Kawasan yang menyimpan habitat alam yang asri, tidak hanya menjadi tempat tinggal aneka mahluk melata, juga habitat burung-burung.

beneran-nih-kita-berperahu-di-pantai-timur-surabaya

dont-forget-the-safety-jacket

mau-ke-mangrove-center-naik-speedboat

on-speedboat-with-pa-for-second-cruise

Apalagi, melalui FKPM (Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat) dengan tokohnya Pak Djoko, gotong royong mendirikan Pos Pantau, sederhana tapi berharga. Tempat yang asyik untuk piknik, apalagi di sana bisa memesan bandeng bakar organik. Wow. Setelah menanam mangrove, kemudian berperahu menikmati sepoi angin pantai, diakhiri makan bandeng bakar. Piknik yang sempurna, anak-anak happy sekali.

wakgus-arif-n-wilis-di-mangrove-center

nad-pamer-bandeng-organik

bandeng-bakar-organik-hanya-di-mangrove-center

Kawasan ini masih bisa dikembangkan lagi. Dengan menambah beberapa rumah panggung dan toilette yang bersih, sudah cukup menarik wisatawan yang menyukai konsep alam. Jalan ke arah sana pun cukup dipoles agak lebih aman, membiarkan sedikit ‘keliaran’ alam, akan menjadi daya tarik sendiri.

seperti-hendak-menuju-dunia-tengah-lor

bye

di-atas-selat-madura
Ayo menanam mangrove, Ayo jaga pantai kita dan mari ber-ekowisata

Welcome to Bozem Wonoreje Rungkut - Surabaya

Sby, 27 Mei 09
Foto by: Wilis n Nadia

Bulan Mei memang istimewa bagi keluarga kami. Juga buat kota kami: Surabaya.
Pada Mei ada 3 orang istimewa yang punya tanggal kelahiran berdekatan.

Icha, putri ke dua lahir 8 Mei. Sayang ultahnya terlewati. Meski kue ultah sudah disediakan, tapi tersimpan di kulkas sampai 4 hari, baru hari Selasa lalu ritual potong kue dilaksanakan. Tetapi, si gadis bermata indah sudah ngoceh sambil senyum-senyum sendiri, mengingatkan Pa akan hadiah yang sudah dipilihnya sendiri

“Hari Jumat aku ulang tahun lho” katanya sambil memperlihatkan gigi kelincinya

Pa cuma tersenyum mengingat tagihan hadiah yang sudah di depan mata. Pada hari H, aku cuma bisa menelpon Icha, karena waktu itu masih menemani Bang Ijal dirawat di Rumah Sakit. Jadi hanya ucapan selamat by phone dan doa yang semoga tak pernah lupa kudaraskan untuk kesehatan anak-anak.

Masih ada lagi yang mau ultah. Pa ultah tanggal 14 Mei. Seperti biasa, paling potong kue atau makan-makan. Tidak pernah lebih dari itu. Hadiah juga tidak ada yang besar-besar. Karena perhatian anak-anak sudah terlalu besar. Bang Ijal sudah membuat ucapan yang dibuat handmade, begitu dia tiba di rumah sekembalinya dari RS. Dia pilih gambar di komputer dan mencetaknya dan menempelkan di kertas yang penuh hiasan.

Nabiel, sedang merengek minta kaos putih yang mau dicat entah apa, “Besok kan Pa ulang tahun, aku mau buat hadiah buat Pa” katanya dengan wajah bayinya.

Yang lain entah buat kejutan apa. Ma mau kasih hadiah apa?….Hadiah ucapan selamat dan doa seperti yang sudah-sudah.

Lagian ultah Pa, ga usah dirayakan pun sudah pasti meriah. Apalagi setelah Pa bergabung di situs jaringan sosial yang lagi beken di Indonesia: Facebook. Ultah-nya jauh lebih seru. Orang dari mana-mana mengirimkan ucapan selamat, hadiah dan gambar lewat dunia maya.

Naa tanggal 30 Mei, giliran si gendhut Nabiel yang ultah. Sudah pesen hadiah jauh hari. Ma disuruh cari di toko mainan di sebuah pusat grosir. Dia memang hobi mengatur orang. Masa kita yang didikte-nya untuk beli hadiah. Padahal kalau Nabiel dapat hadiah, sama artinya yang lain pun kudu dapat hadiah juga. Begini repotnya kalau jarak anak terlalu dekat. Kalau Nabiel minta skuter, Bang Ijal dan Kakak Icha kudu dibelikan juga….ah bulan Mei selalu ekstra budget.

Yang terakhir gong-nya pada tanggal 31 Mei, kota Surabaya yang ulang tahun. Tahun ini ultah ke 716…ih tua amat yaa. Beberapa tahun belakangan ini, puncak acara digelar Konser Musik. Icha anak kesayangan Pa, jauh hari sudah pesan untuk mendatangkan Project Pop. Seperti biasa, keinginannya bakal keturutan, insya allah, kalau tidak ada aral melintang. Jadi tidaknya, yaaa tunggu saja tgl 31 Mei, di Taman Surya.

Happy May Celebration
Semoga selalu sehat semuanya yaa
Dan bersama-sama membuat Kota tercinta jadi lebih indah, aman dan nyaman.

Sby, Mei 13 ‘09

Apa yang kita rasakan di setiap hari kelahiran?
Anak-anak akan berharap sebuah hadiah dan perayaan
Si ABG sudah bisa mendiktekan suatu keinginan

Lalu, apa yang kita inginkan?
Ketika sadar atau tidak telah berada di sebuah masa dan telah melewatiwaktu sebelum ini dengan begitu rupa? Ketika suka atau tidak suka berada di era penuh segala keinginan duniawi? Ketika mau tidak mau telah sampai di ambang akhir ‘keberanian’ dalam ukuran normativ?

Hari ini adalah hadiah
Setiap hari adalah anugerah
Seluas harapan yang didaraskan orang tua, saudara dan sanak keluarga
Selangit ungkapan kasih sayang penuh pengharapan

Hari ini adalah hadiah
Setiap hari adalah anugerah
Yakin saja Tuhan selalu mengirimkan kepada kita orang-orang pilihanNya
Peristiwa-peristiwa yang jadi batu ujian kita dan kesenangan-kesenangan yang jadi hiasan hidup kita
Melalui rahasia-rahasia yang disimpan rapi dalam kepekaan

Terimakasih Tuhan selalu menjaga-ku
Melangkah dalam pilihan dan keyakinan tuntunanNya
Mengirimkan orang tua yang selalu tulus mendoakan kesejahteraan dan keselamatan
Mengirimkan orang-orang yang menjadikan aku ada dalam ingatan dan doa-doa mereka
Mempercayakan anak-anak yang membuatku merasakan wujud Tuhan dalam jelmaan tawa dan cahaya kebahagiaan yang hangat seperti bau surga
Mengirimkan laki-laki yang menjadi sandaran, berbagi dan untuk saling menjaga

Terimakasih Tuhan selalu menjaga-ku
Megirimkan teman dan sahabat yang peduli dan senantiasa membuatku kuat

Hari ini adalah hadiah
Setiap hari adalah anugerah

Tuhan terimakasih atas karuniaMu sampai detik ini
Semoga terus menjaga aku mengemban kepercayaanMu, membalas budi baik segala hadiah dan anegurah yang telah Kau berikan pada-ku
Semoga masih banyak waktu buat-ku agar menjadi berguna bagi semua orang dan semua mahluk-Mu

13 april 09

Malu Hati

Memasuki bulan April, bukan cuma anak saya, Nadia yang mau UNAS yg deg-deg an…saya juga tambah deg-deg an. Apa pasal? Jauh hari baik Nadia maupun sekolah sudah warning “saat UNAS nanti Ma n Pa ikut khataman Quran yaa di masjid sekolah. Doa-in anak-anak semua”

Bukan soal tidak mau…atau tidak bisa baca Quran. Masalahnya bacaan saya tidak up to date sama sekali. Maklum metode pembelajaran yang jauh berbeda dengan anak-anak di sekolah. Gampangnya ‘Bisa baca tapi asal bisa…’

Sebenarnya saya sudah berusaha mengatasi ‘keterbelakangan’ ini sejak Nadia masuk SD. Kebetulan di sekolah ada semacam kelas baca Quran untuk orang tua murid. Selain membiasakan membaca Quran, juga agar bacaan orang tua lebih tepat, karena pelajaran Quran di sekolah ini sudah teruji. Lengkap sekali. Jaman dulu mana kalau ga sekolah di Madrasah atau Pesantren mana kenal kita dengan ‘Ghorib, Tarjim’ dan lain-lain.

Nah, ceritanya sejak Nadia kelas 2 SD kalau ga salah, saya ikut kelas baca Quran untuk orang tua murin setiap hari Sabtu. Ada test segala. Saya pikir karena sudah pernah les privat dan sudah mengaji Quran, saya tinggal melanjutkan…..eh ternyata saya harus mengulang….JILID 1…..waaaaah….ya sudah saya jalani saja. Sampai beberapa jilid saya lewati kalau ga salah lagi jilid 5. Kurang 1 jilid lagi sudah masuk kelas Al Quran.

Tetapi ceritanya…agak mundur lagi..

Sewaktu Nadia kelas 2, artinya umur dia 7 tahun dan adiknya masih 2 tahun. Belum lagi adiknya genap berumur 2 tahun, saya hamil anak ke 3. Saya masih terus belajar tiap Sabtu sampai menjelang ujian jilid 5…eh mulai rewel tubuh saya. Sejak dinyatakan positif hamil anak ke 3, saya mengalami perbedaan dalam diri saya. Tubuh lbh banyak rewel. Batuk terus ga ada matinya. Keadaan demikian sangat mengganggu aktivitas. Sampai akhirnya saya berhenti belajar di tengah jalan. Padahal hampir ujian. Sayang sekali. Mau tidak mau, tubuh tidak bisa diajak kompromi.

Saya berniat melanjutkan pelajaran setelah kelahiran Bang Ijal. Begitu dia 4 bulan dan sudah tidak ASI Eksklusif lagi (dulu ASI Eksklusif s/d 4 bulan..sekarang 6 bulan), saya masuk kelas lagi. Di tes lagi..mengulang 2 jilid di bawah…saya pun jalani saja..toh prinsip saya belajar sepanjang hayat.

Tapi eh….ketika Bang Ijal umur 6 bulan…saya dinyatakan positif lagi….O O….kesundulan ceritanya…akhir cerita..pelajaran mengaji terbengkelai lagi…

Ketika anak ke 4 sudah lahir…dengan Karier Bapak-nya yang lagi di puncak…dengan 4 anak kecil…saya harus ambil alih seorang diri ngurus anak-anak. Tiap hari jadi sopir. Antar jemput si Kakak, meski akhirnya menyerah, dan si Kakak mesti ikut antar jemput sekolah bareng teman-temannya. Toh saya masih harus handel 3 anak kecil yang usianya nyaris berurutan. Setiap kali pergi, saya harus bawa mereka. Nyetir mobil sambil megangi dot susu. Nyaris waktu saya habis. Sekali lagi pelajaran mengaji terbekelai lagi.

Oke diniatkan lagi belajar. Kali ini sudah lebih realistis. Dengan tekad bulat, saya sudah rencanakan, begitu si bungsu Nabiel umur 3 tahun, saya harus ke luar rumah lagi. Terjun ke arena publik lagi. Entah kerja di LSM atau merintis usaha entah apa. Termasuk belajar ngaji lagi di sekolah. Wis mengulang jilid 1 lagi juga nda apa!

Benar saja, waktu itu akhirnya datang juga. Nabiel 3 tahun. Dan saya mulai belajar meninggalkan anak-anak.

Tetapi bukan seperti yang saya rencanakan. Saya memang harus meninggalkan anak-anak, tapi untuk sebuah kerja yang lain. Dalam hitungan hari, segalanya berubah, roller coaster yang tadinya berjalan pelan, tiba-tiba harus putar haluan dan berbalik arah dengan cepat sekali.

Tidak ada dalam pikiran saya, menjadi istri Pejabat ketika suami akhirnya jadi Wakil pimpinan daerah…saya harus memegang konsekuensi sebagai istrinya. Bukan suami saja yang harus bekerja menjalankan amanah. Saya pun tiba-tiba dapat pekerjaan segunung. Kerja-kerja-kerja….sosial: di PKK, Dekranas….belum lagi forum-forum yang saya datangi.

Nyaris tak punya waktu. Malah di hari Sabtu yang rencananya saya pake untuk belajar mengaji lagi di sekolah, seringkali acara padat mulai pagi. Kami harus menjalaninya.

Sampai akhirnya beberpa tahun berjalan. Bahkan Nabiel sudah kelas 1 SD….saya masih punya niat belajar lagi…tapi kadang bingung soal waktu. Pernah menanyakan untuk panggil guru saja, tetapi waktunya juga belum bisa matching.

Semoga segera ada solusi yang adil, saya bisa belajar mengaji lagi dan tetap menyelesaikan kerja sosial. Teman-teman seangkatan dulu sudah canggih-canggih semua. Ga bingung-bingung kalau ditanya anaknya. Saya sih masih bisa nemani mereka kalau mengaji JILID…tapi kalau Icha sudah tanya Ghorib…wah ketahuan ibu-nya masih ‘bodoh’ soal itu. Lha maqom ibu-nya baru jilid…yaa kalau anak-anak sudah LULUS…ibunya ini masih kelas Kejar Paket.

Wah kudu mengejar ketinggalan nih. Malu ah sama anak-anak. Lebih malu lagi sama Dia Yang Maha Bijak….aduh malu hati-ku…

Sby, 6 April ‘09

Seorang teman menulis, “senangnya bisa membuat orang lain bahagia…..”.

Kesenangan, kepuasan semacam itu mungkin sangat personal. Tapi efeknya luar biasa bagi  dunia.  Tidak perlu muluk-muluk untuk membahagiakan orang lain. Apabila spirit seperti ini terus ditebarkan, dalam kondisi apapun, manusia akan tetap ikhlas menjalani kehidupannya.

Mungkin aneh yaa. Ada banyak cerita yang mungkin pernah Anda baca. Ada penjual depot makanan yang selalu diserbu pembeli. Singkatnya depotnya selalu laris manis. Mestinya sang penjual juga bisa menikmati ‘kemakmuran lebih’ yg biasa diliat kacamata awam. Tapi ada yang tetap biasa-biasa saja. Bukan kemewahan duniawi, tetapi ada yang memilih ‘kemewahan batin’. Merasa sudah cukup bisa IKUT makan sudah CUKUP. Baginya mungkin sudah sangat membahagiakan ketika pembeli puas menikmati masakannya.

Saya bertemu Ibu-ibu yang MAU repot membantu sesama ibu, awalnya karena KASIHAN. Tetapi kemudian menjadi rutinitas hidupnya. Ketika kata ‘BELAS KASIH’  bersemayam dalam diri, alangkah beruntungnya orang yang mendapatkannya. Apa saja yang dilakukan, hanya karena ingin berbagi kasih, menebar kebahagiaan dengan membantu orang lain.

Kebahagiaan bisa menjadi milik siapa saja. Apalagi kalau bisa membuat orang lain bahagia dan bisa tersenyum puas. Meski hanya dengan memberikan waktu dan tenaga dengan tulus, bisa bermanfaat untuk orang lain. Meski hanya dengan memberikan pertolongan kecil, bisa berguna bagi sesama. Meski hanya dengan SENYUM, mampu mengubah dunia jadi lebih indah.

Ayo…..terus berusaha menjadi orang yang bermanfaat untuk lingkungan sekitar kita. Memberikan perhatian dan kepedulian kita.

Semoga

Sby, 20 Maret 09

Hari-hari belakangan jadi sangat sibuk, maksudnya tambah sibuk karena mau bikin Bazaar dan Workshop Handicraf. Senang dan seneb juga. Senang karena sibuk. Seneb karena sibuk juga. Wah membingungkan yaa. Ini proyek nekad bangets. Tidak ada anggarannya. Karena anggaran hanya untuk sewa space yang diisi secara bergiliran oleh UKM-UKM, GRATIS. Jadi kudu putar otak, dalam waktu singkat. Untung lah banyak yang membantu. Promo di radio-radio misalnya bisa free. Suvenir untuk pendengar yang interaktif juga dari perajin. Selama ada network yang baik, bisa jalan kok…..meski nekad juga.

Rencananya 1 s/d 5 April acara berlangsung, diadakan oleh DEKRANASDA Kota Surabaya, di mana saya menjadi Ketua-nya. Event ini sebenarnya cukup mendadak. Hanya 1 bulan dipersiapkan. Itu pun teknisnya baru jalan 2 minggu ini.

Minggu ini sibuk promo, karena wajib memberi tahu khalayak agar datang ke Bazaar dan belanja tentunya. Mumpung baru gajian kan. Belanja handicraft asli buatan anak bangsa, yang diciptakan penuh dedikasi dan kecintaan. Tidak hanya produk tak berjiwa. Inilah handicraft. Bukan hanya buatan tangan. Tapi produk yang bagus bahkan bisa dirasakan oleh konsumen yang jeli.

Dari berbagai pameran yang diikuti ada saja hal yang mengejutkan. Misalnya, kain batik yang dulu identik dengan orang tua dan jadul, tiba-tiba bisa diserbu ba kacang goreng.Sekarang tua muda bahkan anak-anak ber-batik ria.

Atau ada yang membuat dried flower. Kelihatan rumit dan makan waktu. Harganya pun berani. Tetapi di Kota seperti Jakarta, tua - muda tak ada yang malu atau rikuh, menggotong sana sini bunga-bunga kering yang akan dipajang di rumahnya. Handicraft untuk home decoration seperti ini, selalu ada penikmatnya bahkan yang fanatik. Kalau dipikir, aneh juga ada yang hobi gonta-ganti dekorasi rumah. Begitulah kota yang sudah ‘fashionable’. Ga cuma ganti model baju, interior rumah pun mesti up to date.

Inilah kenapa saya selalu bersemangat ketika berinteraksi dengan para perajin. Melihat hasil karya yang indah. Ada juga yang simple tapi menggemaskan. Dan yang penting, produk perajin sudah masuk ke pasaran. Karena itu sejak 2006, saya giat mengikuti dan mengadakan pameran di mal-mal. Senang saja ketika handicraft sudah ada di mal-mal. Merasa ada gunanya, setelah melihat bagaimana di negara-negara lain itu sudah sangat biasa.

Sekarang kalau Anda berkunjung ke Surabaya, bisa ditemui di beberapa mal, stan-stand produk kerajinan. Nah yang masih jadi PR memang di Surabaya ini belum ada sentra kerajinan. Produk yang ada masih dibuat secara individual.  Kalau ada sentra, mulai urusan suplai bahan baku, model atau desaign dan proses pembuatan bisa distandar-kan. Quality control juga akan lebih mudah. Dan yang penting harga jual bisa bersaing, terutama dengan barang-barang impor dari negeri China yang terkenal murahnya itu. Sebenarnya bisa kita buat produk yang murah tapi tetap terjaga kualitasnya. Adanya sentra menjadi urgent sebagai salah satu solusi mengatasi ‘harga’ di pasaran dan juga  terjaminnya keberlangsungan produksi.

Masih ada kesempatan dan semoga akan semakin banyak pihak concern pada UKM. Handicraft menjadi ujung tombak pariwisata. Iya kan.

Jadi kalau mau cari oleh-oleh atau pesan suvenir kado perkawinan atau ulang tahun bisa datang ke Surabaya Handicraft Bazaar pada 1-5 April nanti di ITC Mega Grosir.

Eh ada workshopnya juga:

1. Rabu, 1 Arpil jam 13.00= membuat suvenir dari bahan handuk

2. Kamis, 2 April jam 13.00= membuat dried flower/bunga kering dari klobot jagung

3. Jumat, 3 April jam 13.00= Glass painting

4. Sabtu, 4 April jam 12.00 = Batik for Chlidren….ayo adik-adik, belajar batik pake kuas

5. Minggu, 5 April jam 12.00 = Kreasi T-shirt TIE DIE/batik celup….atau dikenal juga tehnik jumputan

Nah bagi yang punya bakat di bidang fashion bisa juga menyalurkan di ajang Lomba Fashion Baju Pesta dari Batik. Yang ini khusus untuk anak-anak dan remaja. Ada hadiahnya lho.

Ditunggu di Surabaya Handicraft Bazaar. Mulai 1 s/d 5 April. Datang yaa.

Sby, 19 Mar 09

pagi tadi
aku telah gagal
aku tak berhasil mengendalikan diri
sungguh berat melampaui ujian demi ujian
maafkan yaaa

Seperti sudah menjadi nyanyian di pagi hari…rumah kami selalu sangat ramai kala pagi pada hari-hari biasa, hari di mana anak-anak masuk sekolah dan Pa mau ke kantor

Children dilevery mesti disiapkan dalam hitungan menit. Saat crusial pertama adalah saat mandi. Entah siapa yang memulai, bisa-bisanya 4 anak rebutan 1 kamar mandi, sementara ada 1 kamar mandi dibiarkan tak berguna. Belum lagi kalau ada yang lupa bawa handuk. Ma dan Bibi yang sibuk di dapur menyiapkan sarapan dan bekal sekolah mesti lari ke sana kemari.

Saat genting ke dua adalah urusan baju seragam. Meski sudah sejak malam sebelumnya disiapkan, selalu saja ada masalah. Ada yang ga mau pake kaos dalam, tapi maunya pakai oblong berlengan. Ada yang meributkan kaos kaki. Ada yang mempermasalahkan dasi dan topi yang kebesaran. Lalu masih ada yang ribut kerudung yang katanya warnanya tidak putih lagi.

Ma si seksi ribut dan si radio rusak tambah jelek saja suaranya. Kalau sudah panik karena jam sudah menunjuk angka 06.30, sementara ada yang belum sarapan, Pa akan kebagian ‘omelan’. Bisa-bisanya Ma menuduh Pa tidak bertanggung jawab karena enak-enak baca koran, sementara Ma ribut sendiri…’hey siapa suruh!”…Mestinya Pa bantu menandatangani buku penghubung. Buku ajaib ini bisa menimbulkan huru hara juga di pagi hari.

Seperti tadi pagi….the crazy morning

Pagi tadi, baru dalam sejarah children dilevary, terjadi dalam 3 kloter…Nadia yang sedang on the top of pressure berangkat duluan, karena setiap hari harus mengikuti segala macam test dan try out…berangkatlah kloter pertama

Kloter ke dua mestinya berisi 3 anak anggota gerombolan pengacau. Tetapi kali ini, hanya berisi Icha dan Nabiel. itu pun Icha sudah mulai mengamuk pada adiknya yang paling disayangi sekaligus selalu dimusuhi-nya: Ijal. Jadi untuk menghindarkan ‘bad mood’ di sekolah, Ma yang praktis terpaksa memberangkatkan Icha dan Nabiel terlebih dulu. Mimik driver yang kebingungan tak dihiraukan. Biasanya kan armada kloter 2 berisi 3 anak. Pagi tadi hanya 2.

Bang Ijal terpaksa ditinggal. Semua ini gara-gara Ma gagal mengendalikan amarah…dan yang mengerikan lagi…tanduk di kepala Ma sudah bermunculan tidak cukup 2…di mana-mana Ma sudah bertanduk…Ma telah kalah oleh si amarah…Ma nelangsa sekali sebenarnya

Setiap Jumat, jadwal Olah Raga Bang Ijal. Pagi-pagi sudah meributkan seragam olah raga. Bang Ijal minta seragam baru. Oke, sim salabim, seragam Bang Ijal pun berganti baru. Sayang mantra ajaib Ma kurang. Seragam itu belum bernama dan tidak ada bed kelas. Bang Ijal pun bete berat. Seragamnya tidak sempurna. Baginya sihir Ma akan kaos dan celana baru sama sekali tak menarik. Ma pun beralasan, mesin jahit tengah rusak, tidak bisa pasang bed nama.

Masih dengan wajah bete, Ijal minta tidak ikut olah raga. Amarah Ma mulai meradang…dengan tegas Ma bilang Bang Ijal harus tetap ikut ke lapangan olah raga meski tidak ikut olah raga. Bang Ijal mulai menangis. Ma yang sudah mulai galak tidak mau tahu.

Entah dapat ide dari mana, dalam tangisnya, tiba-tiba Ijal memunculkan persoalan baru. Kali ini dia menggugat baju seragam putih-putih untuk ganti setelah olah raga. Katanya bajunya sudah tidak putih. Minta yang baru. Ma pun sekali lagi mengayunkan tongkat ajaibnya, seragam putih baru….tapi lagi-lagi belum ada bed nama dan kelasnya…huh…Bang Ijal yang merasa belum kalah, melancarkan aksi serangan lagi.

Kali ini dia sudah menangis keras, katanya celana putihnya sudah kependekan…..Nah….Ma sudah gelap mata…orang-orang di rumah mungkin sudah mulai menyingkir…tak kalah keras dari tangisan Bang Ijal, Ma pun berteriak, tidak mungkin menghadirkan sebuah celana baru, karena celana putih itu mesti dijahit ke taylor, butuh waktu bla bla bla bla….

Ruapanya urusan ‘eyel-eyel-an’ dua orang ini sangat jago: Ma dan Ijal. Setelah kalah 1-0 dari Ma…Bang Ijal masih punya stok untuk ‘menguji’ Ma lagi….dengan tantrum dan suara tangis yang sudah mengalahkan halilintar…bang Ijal minta sebuah permintaan yang bagi Ma sangat sepele, tapi justru membuat Ma benar-benar KO!.

“aku minta uang lima ribu buat beli penghapus”….kata Ijal di sela tangisnya

“kita punya persediaan penghapus…ambil di kamar, ayooo….” kata Ma merasa belum kalah

“aku mau penghapus steadler!. Aku ga mau penghapus yang itu! aku minta lima ribu, aku mau beli steadler!” ……kali ini Ma sudah kehabisan kata-kata…entah apa jadinya….kalau Ma membuka mulut…entah ada kekuatan dari mana, Ma cuma bisa diam menggeram…syukurlah urat syarafnya tak putus karena menaham marah yang amat sangat…

Saat itu jam sudah menunjuk angka 6.50. Icha sudah berteriak-teriak karena pagi itu dia pun ada THD….test hitung dasar

Saat itulah, Ma yang sedang kalut, segera memberangkatkan Icha n Nabiel…”Kamu tidak usah masuk sekolah!”…hanya kata itu yang akhirnya keluar dari mulut Ma kepada Ijal.

Ijal sudah berguling-guling…tidak hanya karena ditinggal kakak dan adiknya, buku penghubungnya juga belum ditanda tangani…what a rush n crazy morning…God please forgive me

Untunglah masih ada yang waras di rumah ini…masih ada yang jadi sandaran tempat mengadu…akhirnya Pa buru-buru ke luar kamar mandi dan berpakaian…mengisi buku penghubung dan berkata…..”ayo Pa antar Ijal ke sekolah”….

“Papa….” tangis Ijal memelas…
Tapi Ma sedang marah sekali….tak punya belas kasihan lagi..

Ma lega ketika akhirnya Pa mengantar Ijal ke sekolah…”Pa…Ijal….. please deh”…Ma berbicara dengan bahasa isyarat, agar Pa melakukan sesuatu pada Ijal…”Oke-oke…ayo berangkat” kata Pa tanpa banyak cingcong.

Kegilaan pagi…itu akhirnya pergi…
Sungguh bukan pagi yang menyenangkan….suara-suara kecil berdentang-dentang di lubuk hati terdalam…istighfar…istighfar….istighfar!!!!

maafkan Ma yang Bang Ijal,
Astaghfirullah…..

Sby, 7 mar 09

Ketika….

ketika akhirnya sampai di suatu tempat

yang menjanjikan kebaikan dan kenikmatan

hati yang terpana dan jiwa yang selalu bertanya

tak perlu sebuah jawab

karena kita hanya perlu taat


di bawah terik panas sang surya

mengapa Dia menganugerahkan syurga

ada cahaya ungu

ada desiran sang bayu

sejuk memeluk sukma yang terpana janji-janji-Nya


di sana ada gelombang yang menarik berjuta keinginan

manusia berebut mengelu-elukan

aku berdiri di sana seperti tak ada di mana-mana

karena tempat itu tiba-tiba tidak ada

yang ada hanya segala keindahan yang sulit dilukiskan kata-kata


tempat itu sungguh nyata…hanya kebahagiaan ada di sana

tanpa duka lara…sungguh manusia pantas berlomba meraihnya

karena di sana hanya ada suka cita


kini aku berada kembali di tempat ini sesungguhnya

aku bahagia kadang

aku sedih juga

aku merasa hidup sungguh indah

aku kadang pun merana


ketika gulana, aku akan mengingat tempat yang penuh keindahan itu

ketika sedih, aku akan berkunjung kembali ke sana, di tempat yang hanya ada kebahagiaan


Ya Rabb….bawa aku ke sana…

Ya Rabb….sisakan sejengkal jejak

bagi kakiku berdiri di sana

Ya Rabb….yang mengetahui apa yang tersembunyi…

Sby, 18 feb 09

Older Posts »